Arenabetting – Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, mengaku tidak akan menerapkan strategi penjagaan khusus terhadap Lionel Messi saat menghadapi Argentina di final Piala Dunia 2026. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kapten Tim Tango tetap menjadi pemain yang paling berbahaya di lapangan.
Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Spanyol dan Argentina di New York New Jersey Stadium, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Pertandingan ini diprediksi berlangsung sengit mengingat kedua tim sama-sama tampil impresif sepanjang turnamen.
Messi datang ke partai puncak dengan performa luar biasa. Bintang berusia 39 tahun itu telah mengoleksi delapan gol dan empat assist, menjadikannya salah satu pemain paling berpengaruh dalam perjalanan Argentina menuju final.
De la Fuente Punya Pengalaman Menghadapi Messi
Luis de la Fuente ternyata memiliki pengalaman unik saat pertama kali berhadapan dengan Lionel Messi. Momen tersebut terjadi lebih dari dua dekade lalu ketika ia masih menangani tim junior Sevilla.
Saat itu, Sevilla bertemu Barcelona di ajang Copa del Rey level junior. Sebelum pertandingan dimulai, De la Fuente sudah mendengar banyak cerita mengenai bakat luar biasa Messi yang masih sangat muda.
Karena khawatir dengan ancaman sang pemain, ia memutuskan menugaskan satu pemain untuk mengawal Messi secara ketat sepanjang pertandingan.
Strategi Man-Marking Justru Berakhir Petaka
Pada sebagian besar pertandingan, strategi tersebut sempat berjalan cukup baik. Hingga menit ke-70, skor masih bertahan 0-0 dan Messi belum mampu memberikan dampak besar.
Namun situasi berubah ketika pemain Sevilla yang bertugas mengawal Messi menerima kartu kuning. Demi menghindari risiko kartu merah, De la Fuente akhirnya menarik pemain tersebut keluar dari lapangan.
Keputusan itu justru menjadi titik balik pertandingan. Dalam 15 menit terakhir, Messi tampil menggila dan berhasil mencetak empat gol ke gawang Sevilla.
Pengalaman tersebut membuat De la Fuente semakin memahami bahwa menghentikan Messi bukan perkara mudah, bahkan ketika satu pemain ditugaskan mengawalnya secara khusus.
Spanyol Pilih Bermain Kolektif
Belajar dari pengalaman tersebut, De la Fuente memastikan Spanyol tidak akan menggunakan sistem man-marking terhadap Messi pada final Piala Dunia 2026. Menurutnya, pendekatan seperti itu bukan solusi terbaik.
Sebaliknya, Spanyol akan tetap menjaga Messi secara kolektif seperti saat mereka mengantisipasi pemain-pemain berbahaya lainnya. Seluruh pemain diharapkan bekerja sama untuk mempersempit ruang gerak kapten Argentina tersebut.
Pelatih berusia 65 tahun itu menilai keberhasilan menghentikan Messi bukan hanya tugas satu pemain, melainkan tanggung jawab seluruh tim selama pertandingan berlangsung.
Ia juga percaya Spanyol memiliki organisasi permainan yang cukup baik untuk menghadapi ancaman dari lini serang Argentina.
Messi Tetap Jadi Ancaman Terbesar
Meski tidak menyiapkan penjagaan khusus, De la Fuente mengakui Messi tetap menjadi sosok yang harus mendapat perhatian lebih. Pengalaman, visi bermain, dan kemampuan menciptakan peluang membuat La Pulga mampu mengubah jalannya pertandingan kapan saja.
Argentina juga datang ke final dengan kepercayaan diri tinggi sebagai juara bertahan. Tim Tango memiliki banyak pemain berkualitas yang siap membantu Messi dalam membongkar pertahanan lawan.
Dengan kualitas yang dimiliki kedua tim, final Piala Dunia 2026 diprediksi berlangsung ketat hingga peluit akhir berbunyi. Spanyol berharap strategi kolektif mereka mampu meredam pengaruh Messi sekaligus membawa pulang trofi juara dunia untuk kedua kalinya.


