Komunitas Agen Bola, SBOBET, IBCBET, Prediksi Pasaran Bola & Casino Online Terbesar

Berita Bola

Julian Nagelsmann Pasang Badan Usai Jerman Tumbang dari Ekuador di Piala Dunia 2026

Arenabetting – Timnas Jerman harus menelan kekalahan 1-2 dari Ekuador pada laga terakhir Grup E Piala Dunia 2026. Meski hasil tersebut tidak memengaruhi status mereka sebagai juara grup, kekalahan itu memunculkan berbagai pertanyaan mengenai performa dan semangat bermain para pemain. Jerman sebenarnya sudah memastikan tiket ke babak 32 besar sebelum pertandingan dimulai. Namun, pelatih Julian Nagelsmann tetap menurunkan sebagian besar pemain inti untuk menjaga ritme permainan menjelang fase gugur. Meski sempat unggul lebih dulu, Jerman gagal mempertahankan keunggulan hingga akhirnya harus mengakui kebangkitan Ekuador. Setelah pertandingan usai, Nagelsmann langsung memberikan tanggapan atas kritik yang mengarah kepada timnya. Jerman Gagal Pertahankan Keunggulan Pertandingan berjalan cukup baik bagi Jerman pada awal laga. Leroy Sane berhasil membawa timnya unggul lebih dulu sehingga Die Nationalelf sempat mengendalikan jalannya pertandingan. Namun, Ekuador yang datang dengan misi wajib menang tampil semakin agresif setelah tertinggal. Tekanan yang terus diberikan membuat lini pertahanan Jerman mulai kehilangan kendali. Kerja keras Ekuador akhirnya membuahkan hasil melalui gol Nilson Angulo dan Gonzalo Plata. Dua gol tersebut memastikan kemenangan sekaligus menjaga peluang mereka melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026. Nagelsmann Tolak Kritik Soal Komitmen Usai pertandingan, Julian Nagelsmann mendapat pertanyaan mengenai komitmen para pemainnya. Beberapa pihak menilai Jerman tidak tampil dengan semangat penuh karena posisi mereka sebagai juara grup sudah aman. Nagelsmann menolak anggapan tersebut. Ia menegaskan seluruh pemain tetap memiliki keinginan besar untuk meraih kemenangan dan tidak ada yang sengaja mengurangi intensitas permainan. Menurutnya, hasil pertandingan lebih banyak dipengaruhi oleh motivasi tinggi yang diperlihatkan Ekuador. Lawan tampil dengan tekanan lebih besar karena masih membutuhkan kemenangan untuk menjaga peluang lolos. Ia juga menilai kritik yang mempertanyakan komitmen para pemain terlalu sederhana dan tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan. Rotasi Tetap Dilakukan Meski masih menurunkan banyak pemain inti, Nagelsmann tetap melakukan beberapa pergantian pemain selama pertandingan berlangsung. Perubahan tersebut dilakukan untuk mencari keseimbangan permainan setelah timnya tertinggal. Jerman juga terus berusaha mencetak gol penyeimbang hingga menit-menit akhir. Namun, pertahanan Ekuador tampil disiplin dan mampu mempertahankan keunggulan sampai peluit panjang dibunyikan. Die Nationalelf memang gagal menutup fase grup dengan kemenangan. Meski demikian, hasil tersebut tidak mengubah posisi mereka sebagai pemuncak Grup E. Kini fokus Jerman sepenuhnya beralih menuju persiapan menghadapi pertandingan babak 32 besar. Tatap Babak Gugur dengan Percaya Diri Kekalahan dari Ekuador tentu menjadi bahan evaluasi penting bagi Jerman sebelum memasuki fase gugur. Tim pelatih diperkirakan akan memperbaiki sejumlah kelemahan yang terlihat pada pertandingan terakhir. Die Nationalelf tetap memiliki modal kuat karena berhasil lolos sebagai juara grup. Pengalaman dan kualitas skuad membuat mereka masih menjadi salah satu kandidat kuat dalam perebutan gelar Piala Dunia 2026. Dengan waktu persiapan yang cukup sebelum babak 32 besar dimulai, Jerman diharapkan mampu kembali menemukan performa terbaik dan membuktikan bahwa kekalahan dari Ekuador hanyalah sebuah pelajaran penting sebelum memasuki fase yang lebih menentukan.

Julian Nagelsmann Pasang Badan Usai Jerman Tumbang dari Ekuador di Piala Dunia 2026 Read More »

Arda Guler Cetak Rekor Baru Meski Turki Gagal Lolos di Piala Dunia 2026

Arenabetting – Turki menutup perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan dramatis 3-2 atas Amerika Serikat pada laga terakhir Grup D. Meski gagal lolos ke babak 32 besar, kemenangan tersebut tetap menghadirkan momen bersejarah bagi Arda Guler. Gelandang muda berusia 21 tahun itu berhasil mencetak satu gol penting yang mengawali kebangkitan Turki dalam pertandingan. Gol tersebut bukan hanya membantu tim meraih kemenangan, tetapi juga mengantarkan Guler mencatat rekor baru di ajang Piala Dunia. Perjalanan Turki memang harus berakhir di fase grup. Namun, penampilan Arda Guler menjadi salah satu sisi positif yang memberikan harapan besar bagi masa depan sepak bola negara tersebut. Gol Bersejarah Arda Guler Arda Guler mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-10 setelah menerima umpan matang dari Yilmaz di dalam kotak penalti. Dengan penyelesaian yang tenang, ia berhasil mengirim bola ke gawang Amerika Serikat. Gol tersebut menjadi gol pertamanya di Piala Dunia 2026 setelah sebelumnya beberapa kali gagal memanfaatkan peluang pada dua pertandingan awal fase grup. Catatan itu terasa semakin spesial karena menjadikan Guler sebagai pemain termuda Turki yang pernah mencetak gol di putaran final Piala Dunia. Pecahkan Rekor Milik Emre Belozoglu Saat mencetak gol tersebut, Arda Guler berusia 21 tahun 120 hari. Usia itu membuatnya melewati rekor sebelumnya yang dipegang Emre Belozoglu sebagai pencetak gol termuda Turki di Piala Dunia. Pencapaian tersebut menjadi bukti perkembangan pesat yang diperlihatkan pemain Real Madrid itu. Di usia yang masih muda, Guler sudah mampu mencatatkan namanya dalam sejarah sepak bola Turki. Sepanjang fase grup, Guler juga selalu dipercaya tampil sebagai starter. Ia tidak pernah digantikan dan selalu bermain penuh dalam setiap pertandingan yang dijalani Turki. Kepercayaan penuh dari tim pelatih memperlihatkan betapa penting peran Guler dalam permainan tim selama turnamen berlangsung. Performa Menjanjikan Sepanjang Turnamen Meski baru mencetak satu gol, Guler termasuk salah satu pemain Turki yang paling aktif menciptakan ancaman. Ia berhasil mencatatkan sepuluh tembakan sepanjang fase grup. Statistik tersebut menunjukkan bahwa Guler terus berusaha mencari peluang untuk membantu tim mencetak gol. Ketekunannya akhirnya terbayar pada pertandingan terakhir melawan Amerika Serikat. Performa individu yang terus meningkat menjadi modal penting bagi perkembangan kariernya. Pengalaman tampil di Piala Dunia juga akan memberikan banyak pelajaran berharga bagi pemain muda tersebut. Turki memang gagal melangkah ke babak gugur, tetapi kontribusi Guler menjadi salah satu hal yang patut diapresiasi. Harapan Besar untuk Masa Depan Kemenangan atas Amerika Serikat memang tidak cukup mengubah nasib Turki di Piala Dunia 2026. Namun, hasil tersebut menjadi penutup yang manis sekaligus memberikan kepercayaan diri bagi generasi muda tim. Bagi Crescent-Stars, kehadiran Arda Guler menjadi harapan besar untuk menghadapi turnamen-turnamen berikutnya. Usianya yang masih sangat muda membuat peluang berkembang semakin terbuka lebar. Apabila terus menjaga konsistensi dan meningkatkan kualitas permainannya, Guler berpotensi menjadi pemimpin baru Crescent-Stars sekaligus membawa Turki meraih hasil yang lebih baik pada Piala Dunia edisi mendatang.

Arda Guler Cetak Rekor Baru Meski Turki Gagal Lolos di Piala Dunia 2026 Read More »

Jepang Tak Gentar Hadapi Brasil, Hajime Moriyasu Yakin Peluang Lolos Masih Terbuka

Arenabetting – Jepang bersiap menghadapi tantangan besar saat berjumpa Brasil pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Meski lawan yang dihadapi merupakan salah satu favorit juara, skuad Jepang datang dengan rasa percaya diri yang tinggi. Pertemuan ini mempertemukan juara Grup C melawan runner-up Grup F. Brasil melaju dengan koleksi tujuh poin, sementara Jepang memastikan tiket ke fase gugur setelah melalui fase grup tanpa sekalipun menelan kekalahan. Pelatih Hajime Moriyasu menilai pertandingan nanti akan menjadi ujian terbaik bagi timnya. Ia justru antusias menghadapi Brasil karena melihat kesempatan besar untuk membuktikan perkembangan sepak bola Jepang di level dunia. Modal Positif Hadapi Brasil Jepang memiliki bekal yang cukup baik menjelang duel penting ini. Pada pertemuan terakhir dalam laga uji coba pada Oktober 2025, mereka berhasil mengalahkan Brasil dengan skor 3-2. Kemenangan tersebut menjadi catatan bersejarah karena untuk pertama kalinya Jepang mampu menundukkan Brasil sejak kedua tim mulai bertemu pada 1989. Hasil itu juga meningkatkan kepercayaan diri para pemain menjelang laga babak gugur. Selain kemenangan bersejarah tersebut, Jepang juga tampil stabil sepanjang fase grup. Mereka berhasil menahan imbang Belanda, mengalahkan Tunisia, serta bermain seri melawan Swedia untuk mengumpulkan lima poin. Moriyasu Percaya Kekuatan Timnya Hajime Moriyasu menilai Jepang telah berkembang jauh dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, para pemain kini memiliki kualitas yang cukup untuk bersaing dengan tim-tim terbaik dunia. Ia tetap menghormati Brasil sebagai salah satu negara dengan tradisi sepak bola yang sangat kuat. Namun, rasa hormat itu tidak membuat Jepang kehilangan keyakinan untuk mengejar kemenangan. Moriyasu juga melihat peluang kedua tim cukup seimbang ketika pertandingan dimulai. Baginya, hasil akhir akan sangat bergantung pada performa masing-masing tim di atas lapangan. Kepercayaan diri tersebut menjadi modal penting bagi Jepang yang ingin kembali menciptakan kejutan di Piala Dunia 2026. Brasil Tetap Jadi Lawan Berat Di atas kertas, Brasil tetap menjadi unggulan dalam pertandingan ini. The Selecao tampil sangat meyakinkan selama fase grup dengan permainan menyerang yang produktif dan pertahanan yang solid. Kehadiran pemain-pemain seperti Vinicius Jr membuat Brasil memiliki banyak variasi serangan yang harus diwaspadai Jepang. Tim asuhan Carlo Ancelotti juga datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah keluar sebagai juara grup. Meski demikian, Jepang sudah membuktikan bahwa mereka mampu menyulitkan Brasil pada pertemuan sebelumnya. Hal tersebut menjadi alasan mengapa laga ini diperkirakan berlangsung ketat sejak menit pertama. Samurai Biru juga memiliki organisasi permainan yang disiplin dan mampu memberikan tekanan kepada lawan melalui serangan cepat. Babak Gugur Hadirkan Tantangan Baru Pertandingan babak 32 besar akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kedua tim. Kesalahan sekecil apa pun bisa menentukan siapa yang berhak melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026. Jepang ingin mempertahankan catatan positif mereka setelah menyelesaikan fase grup tanpa kekalahan. Sementara itu, Brasil bertekad melanjutkan performa impresif untuk menjaga peluang meraih gelar juara. Apabila mampu tampil disiplin dan memanfaatkan setiap peluang yang ada, Samurai Biru memiliki kesempatan menciptakan kejutan. Namun, mereka harus bermain sempurna untuk mengatasi kualitas yang dimiliki The Selecao.

Jepang Tak Gentar Hadapi Brasil, Hajime Moriyasu Yakin Peluang Lolos Masih Terbuka Read More »

Gilberto Mora Cetak Sejarah, Wonderkid Meksiko Masuk Daftar Starter Termuda Piala Dunia

Arenabetting – Gilberto Mora kembali menjadi sorotan pada Piala Dunia 2026 setelah mencatatkan rekor baru bersama Timnas Meksiko. Gelandang muda berusia 17 tahun itu sukses masuk dalam daftar pemain termuda yang pernah menjadi starter sepanjang sejarah turnamen. Kesempatan tersebut datang saat Meksiko menghadapi Republik Ceko pada laga terakhir Grup A. Meski usianya masih sangat muda, Mora mampu mendapatkan kepercayaan dari pelatih Javier Aguirre untuk tampil sejak menit pertama. Penampilan itu semakin mempertegas status Mora sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di dunia sepak bola. Ia terus mencatat berbagai rekor penting dalam perjalanan kariernya yang baru dimulai. Starter Termuda dalam Sejarah Meksiko Gilberto Mora tampil sebagai starter ketika berusia 17 tahun 253 hari. Catatan tersebut menjadikannya pemain termuda yang pernah mengawali pertandingan bersama Timnas Meksiko di ajang Piala Dunia. Rekor itu sekaligus membawa Mora masuk ke posisi keenam dalam daftar starter termuda sepanjang sejarah Piala Dunia. Pencapaian tersebut menjadi bukti besarnya kepercayaan tim pelatih terhadap kualitas yang dimiliki pemain muda itu. Kesempatan bermain sejak awal diberikan setelah Meksiko lebih dulu memastikan diri lolos ke babak 32 besar sebagai juara Grup A. Kondisi tersebut membuat Javier Aguirre melakukan beberapa rotasi pemain. Bakat Besar yang Terus Bersinar Sebelum menjadi starter, Mora lebih dahulu mencatat sejarah sebagai pemain termuda yang tampil di Piala Dunia 2026 ketika masuk sebagai pemain pengganti saat menghadapi Afrika Selatan. Penampilannya di turnamen ini semakin memperlihatkan potensi besar yang dimiliki. Meski sempat mengalami cedera pangkal paha pada awal tahun dan harus menepi selama dua bulan, Mora mampu kembali menunjukkan kualitas terbaiknya. Tim pelatih memilih berhati-hati dalam mengatur menit bermainnya selama fase grup. Langkah tersebut dilakukan agar proses pemulihan berjalan sempurna tanpa menghambat perkembangan sang pemain. Kini, kepercayaan yang diberikan kepada Mora berhasil dijawab dengan penampilan yang semakin matang di usia yang masih sangat muda. Rekor Sudah Jadi Bagian Kariernya Gilberto Mora memang tidak asing dengan berbagai catatan bersejarah. Pada 2024, ia menjadi pemain termuda yang tampil sebagai starter sekaligus mencetak gol di Liga Meksiko ketika baru berusia 15 tahun. Setahun kemudian, Mora kembali mencatat rekor saat menjalani debut bersama tim nasional senior Meksiko pada usia 16 tahun. Perkembangannya yang sangat cepat membuat banyak pihak menaruh harapan besar kepadanya. Kini, rekor baru kembali berhasil ditorehkan melalui penampilannya di Piala Dunia 2026. Namanya sejajar dengan sejumlah legenda sepak bola dunia yang juga pernah tampil pada usia sangat muda. Pencapaian tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa Mora memiliki masa depan cerah bersama El Tri. Masa Depan Cerah Menanti Meksiko kini bersiap menghadapi tantangan yang lebih berat di babak 32 besar. Kehadiran Mora memberikan tambahan pilihan bagi Javier Aguirre dalam menyusun strategi menghadapi lawan berikutnya. Meski usianya masih 17 tahun, Mora sudah menunjukkan kematangan bermain yang mengesankan. Pengalaman tampil di panggung sebesar Piala Dunia tentu akan menjadi bekal penting untuk perkembangan kariernya. Apabila terus berkembang dan mendapatkan kesempatan bermain secara konsisten, wonderkid El Tri itu berpeluang menjadi salah satu pemain kunci Meksiko sekaligus mencatat lebih banyak sejarah pada tahun-tahun mendatang.

Gilberto Mora Cetak Sejarah, Wonderkid Meksiko Masuk Daftar Starter Termuda Piala Dunia Read More »

Strategi Simpan Son Heung-min Jadi Bumerang, Korea Selatan Takluk dari Afrika Selatan

Arenabetting – Timnas Korea Selatan harus menerima kekalahan menyakitkan setelah tumbang 0-1 dari Afrika Selatan pada laga terakhir Grup A Piala Dunia 2026. Hasil tersebut membuat peluang mereka lolos ke babak 32 besar kini bergantung pada hasil pertandingan dari grup lain. Salah satu keputusan yang paling banyak menjadi sorotan adalah tidak dimainkannya Son Heung-min sejak awal pertandingan. Kapten Korea Selatan itu baru masuk pada babak kedua ketika timnya sudah tertinggal. Strategi tersebut ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Korea Selatan gagal membongkar pertahanan Afrika Selatan hingga peluit panjang berbunyi dan harus pulang tanpa tambahan poin. Son Baru Masuk di Babak Kedua Pelatih Hong Myung-bo memilih menyimpan Son Heung-min di bangku cadangan sejak awal pertandingan. Penyerang berpengalaman itu baru diturunkan setelah jeda untuk menggantikan Hwang Hee-chan. Keputusan tersebut diambil dengan harapan Son dapat memanfaatkan kondisi pemain lawan yang mulai mengalami kelelahan. Tim pelatih memperkirakan ruang serangan akan lebih terbuka pada babak kedua. Namun, skenario tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Afrika Selatan tetap mampu mempertahankan organisasi permainan dengan sangat baik hingga pertandingan berakhir. Strategi Tidak Berjalan Sesuai Harapan Hong Myung-bo menjelaskan bahwa keputusan menyimpan Son telah melalui berbagai pertimbangan. Ia berharap sang kapten bisa memberikan dampak besar ketika intensitas permainan lawan mulai menurun. Menurutnya, memasukkan Son pada babak kedua dianggap sebagai cara terbaik untuk memanfaatkan kecepatan dan kreativitas pemain tersebut. Sayangnya, Afrika Selatan mampu menjaga konsistensi permainan sepanjang laga. Pertahanan lawan tetap disiplin meski pertandingan memasuki babak kedua. Akibatnya, Son kesulitan menemukan ruang untuk menciptakan peluang berbahaya bagi Korea Selatan. Strategi yang semula diharapkan menjadi senjata utama justru gagal memberikan perubahan signifikan terhadap jalannya pertandingan. Gol Maseko Jadi Pembeda Afrika Selatan berhasil memastikan kemenangan melalui gol Thapelo Maseko pada babak kedua. Gol tersebut menjadi pembeda dalam pertandingan yang berlangsung cukup ketat sejak menit awal. Setelah tertinggal, Korea Selatan berusaha meningkatkan intensitas serangan. Namun, berbagai upaya yang dilakukan belum mampu menembus pertahanan rapat lawan. Masuknya Son memang memberikan tambahan variasi dalam permainan menyerang. Meski begitu, peluang-peluang yang tercipta belum cukup untuk mengubah keadaan. Bafana Bafana akhirnya mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan selesai sekaligus memastikan langkah mereka menuju babak 32 besar. Harapan Korea Selatan Belum Sepenuhnya Habis Kekalahan dari Afrika Selatan membuat Taegeuk Warriors gagal mengamankan tiket otomatis ke babak gugur. Kini, mereka hanya bisa berharap lolos melalui jalur delapan tim peringkat ketiga terbaik. Nasib Korea Selatan sepenuhnya bergantung pada hasil pertandingan dari grup lain. Situasi tersebut tentu jauh dari harapan setelah mereka datang ke laga terakhir dengan peluang yang masih terbuka. Meski peluang masih ada, tim pelatih dipastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi dan performa pemain. Keputusan menyimpan Son Heung-min menjadi salah satu hal yang paling banyak mendapat perhatian setelah kekalahan ini.

Strategi Simpan Son Heung-min Jadi Bumerang, Korea Selatan Takluk dari Afrika Selatan Read More »

Declan Rice Terancam Absen Lawan Panama, Inggris Dihantui Masalah Cedera

Arenabetting – Timnas Inggris menghadapi kabar kurang menyenangkan menjelang pertandingan terakhir Grup L Piala Dunia 2026. Gelandang andalan mereka, Declan Rice, mengalami masalah pada betis sehingga diragukan tampil saat menghadapi Panama. Cedera tersebut muncul setelah Rice bermain penuh ketika Inggris ditahan Ghana tanpa gol pada pertandingan kedua fase grup. Seusai laga, ia terlihat meninggalkan stadion dengan balutan pada bagian betis kiri yang langsung memunculkan kekhawatiran. Situasi ini menjadi perhatian serius bagi tim pelatih Inggris. Pertandingan melawan Panama sangat penting karena akan menentukan peluang The Three Lions mengamankan status juara grup sebelum memasuki babak gugur. Rice Kembali Bermasalah dengan Kebugaran Masalah yang dialami Declan Rice bukan kali pertama terjadi selama Piala Dunia 2026. Pada pertandingan sebelumnya saat menghadapi Kroasia, gelandang Arsenal itu juga sempat mengalami gangguan pada punggung bawah dan hamstring. Kini, cedera betis kembali menghampiri setelah benturan dengan pemain Ghana. Kondisi tersebut membuat tim medis harus terus memantau perkembangan fisiknya menjelang laga berikutnya. Meski Rice merasa kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan, tim pelatih diperkirakan tetap akan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Mereka tidak ingin mengambil risiko yang bisa memperparah cedera sang pemain. Mainoo Siap Jadi Pengganti Apabila Rice benar-benar tidak dapat bermain, Kobbie Mainoo menjadi kandidat terkuat untuk mengisi posisi di lini tengah Inggris. Gelandang muda tersebut dinilai memiliki kemampuan yang cukup untuk menjalankan tugas sebagai pengganti. Thomas Tuchel tentu harus mempertimbangkan keseimbangan permainan tim apabila melakukan perubahan komposisi pemain. Kehilangan Rice akan mengurangi kekuatan Inggris, terutama dalam menjaga ritme permainan di lini tengah. Selain kemampuan bertahan, Rice juga memiliki peran penting dalam membantu transisi serangan. Karena itu, siapa pun yang menggantikannya harus mampu menjalankan tugas tersebut dengan baik. Keputusan akhir mengenai kondisi Rice kemungkinan baru akan diambil setelah tim medis menyelesaikan pemeriksaan menjelang pertandingan melawan Panama. Masalah Cedera Belum Berakhir Tidak hanya Rice, Inggris juga menghadapi kekhawatiran terkait kondisi Reece James. Bek kanan tersebut dikabarkan mengalami masalah kebugaran sehingga peluang tampil pada laga terakhir fase grup masih belum pasti. Situasi tersebut semakin menyulitkan Thomas Tuchel karena sebelumnya Tino Livramento juga telah lebih dulu mengalami cedera. Kedalaman skuad Inggris pun kembali mendapat ujian menjelang pertandingan penting. Tim pelatih diperkirakan akan mempertimbangkan kemungkinan mengistirahatkan beberapa pemain yang belum berada dalam kondisi terbaik. Langkah itu dilakukan agar mereka siap tampil maksimal pada fase gugur apabila Inggris berhasil lolos. Kondisi kebugaran pemain kini menjadi salah satu fokus utama dalam persiapan menghadapi Panama. Laga Penentuan Menuju Babak Gugur Inggris wajib meraih kemenangan atas Panama untuk memastikan posisi sebagai juara Grup L. Tambahan tiga poin akan membuat langkah The Three Lions menuju babak 32 besar menjadi lebih meyakinkan. Meski lawan sudah dipastikan tersingkir, Inggris tetap tidak boleh lengah. Rotasi pemain dan kondisi kebugaran skuad akan menjadi faktor penting yang memengaruhi jalannya pertandingan. Apabila mampu mengatasi masalah cedera dan tetap mempertahankan performa terbaiknya, Inggris memiliki peluang besar menutup fase grup dengan kemenangan sekaligus menjaga ambisi melangkah jauh di Piala Dunia 2026.

Declan Rice Terancam Absen Lawan Panama, Inggris Dihantui Masalah Cedera Read More »