Berita Bola – Kasus dugaan pelecehan yang melibatkan gelandang Benfica, Gianluca Prestianni, terhadap penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, kini resmi dalam penyelidikan UEFA. Insiden tersebut terjadi dalam laga Liga Champions UEFA yang digelar di Estadio da Luz, Lisbon.
Pertandingan sempat terhenti sekitar 10 menit setelah Vinicius melapor kepada wasit Francois Letexier terkait ucapan yang dianggap bernuansa diskriminatif.
Momen Insiden di Tengah Laga Panas
Peristiwa itu bermula ketika Prestianni terlihat menutup mulutnya dengan jersey saat berbicara kepada Vinicius. Karena gerakan bibirnya tidak terlihat jelas, publik langsung berspekulasi soal apa yang sebenarnya diucapkan.
Tak lama setelah percakapan tersebut, Vinicius berlari menghampiri Letexier untuk melaporkan dugaan hinaan rasial. Situasi pun memanas dan pertandingan dihentikan sementara demi meredakan ketegangan di lapangan.
Atmosfer di stadion sempat tegang sebelum laga akhirnya dilanjutkan kembali.
Klarifikasi Prestianni dan Versi Berbeda
Dalam laporan yang beredar, Prestianni disebut sudah memberikan keterangan kepada UEFA. Ia membantah tuduhan bahwa dirinya melontarkan kata “mono” yang berarti monyet dalam bahasa Spanyol. Sebaliknya, ia mengaku menggunakan kata “maricon” yang berarti homo.
Meski berbeda makna, kedua istilah tersebut sama-sama masuk kategori ujaran yang merendahkan martabat seseorang.
Di sisi lain, pihak Real Madrid dilaporkan telah mengirimkan seluruh bukti yang mereka miliki kepada UEFA sebagai bagian dari proses investigasi. Rekan setim Vinicius, Kylian Mbappe, bahkan menyebut dirinya mendengar ucapan tersebut lebih dari sekali. Ia juga mengklaim bahwa beberapa pemain Benfica turut mendengarnya.
Regulasi Tegas dari UEFA
Berdasarkan Pasal 14 regulasi disiplin UEFA, segala bentuk penghinaan yang menyerang martabat seseorang atas dasar ras, warna kulit, agama, etnis, gender, maupun orientasi seksual akan dikenai sanksi berat. Hukuman minimal yang tercantum adalah larangan bermain setidaknya 10 pertandingan atau periode tertentu, serta kemungkinan sanksi tambahan.
Artinya, jika pengakuan Prestianni terbukti benar sekalipun, konsekuensi disiplin yang dihadapi tetap serius karena ujaran homofobik berada dalam ranah pelanggaran yang sama dengan hinaan rasial.
Sorotan Besar di Panggung Eropa
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya komitmen sepak bola Eropa dalam memerangi segala bentuk diskriminasi. UEFA dalam beberapa tahun terakhir terus mengampanyekan pesan “No to Racism” di setiap kompetisi resmi mereka.
Kini, keputusan akhir berada di tangan badan disiplin UEFA. Hasil investigasi akan menentukan apakah Prestianni benar melakukan pelanggaran dan sanksi apa yang pantas dijatuhkan.
Yang jelas, insiden ini menjadi pengingat bahwa sepak bola modern tidak lagi memberi ruang bagi ujaran yang merendahkan martabat, dalam bentuk apa pun.


