Arenabetting – Nama Massimo Moratti selalu punya tempat spesial dalam sejarah Inter Milan. Mantan presiden Nerazzurri itu dikenal sebagai figur penting di balik era keemasan klub, termasuk saat Inter mencatatkan treble winner legendaris pada 2010 bersama Jose Mourinho. Namun, di balik kenangan manis tersebut, Moratti ternyata menyimpan rasa tidak suka terhadap satu sosok: Simone Inzaghi.
Moratti baru-baru ini mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara Inzaghi meninggalkan Inter. Menurutnya, kepergian pelatih asal Italia itu terasa pahit dan sulit diterima, terutama jika dibandingkan dengan bagaimana Mourinho pamit dari Giuseppe Meazza lebih dari satu dekade lalu.
Standar Tinggi dari Era Mourinho
Moratti menilai Mourinho pergi dengan cara yang “kelas atas”. Setelah membawa Inter meraih segalanya di musim 2009/2010, pelatih asal Portugal itu memilih tantangan baru di Real Madrid. Bagi Moratti, langkah tersebut terasa wajar dan elegan karena Mou meninggalkan klub dalam kondisi puncak prestasi.
Situasi itu sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada Simone Inzaghi. Pada musim panas 2025, Inzaghi memutuskan pergi setelah gagal mempersembahkan gelar pada musim 2024/2025. Yang paling membekas tentu kekalahan telak Inter dari Paris Saint-Germain dengan skor 0-5 di final Liga Champions, sebuah hasil yang sulit dilupakan oleh para tifosi.
Pindah ke Arab Saudi Jadi Sorotan
Usai kegagalan tersebut, Inzaghi memilih melanjutkan karier ke Arab Saudi dengan melatih Al Hilal. Keputusan ini yang membuat Moratti makin kecewa. Ia merasa langkah Inzaghi tidak mencerminkan ambisi besar untuk berkembang di level tertinggi sepak bola Eropa.
Moratti bahkan menilai Inzaghi seolah mencoba mengikuti jejak Mourinho. Namun, menurutnya, perbandingan itu terasa tidak pas. Mourinho pergi setelah membawa Inter ke puncak dunia, sementara Inzaghi justru hengkang usai musim yang berakhir mengecewakan.
Prestasi Inzaghi Tetap Diakui
Meski begitu, Moratti tidak sepenuhnya menutup mata terhadap pencapaian Inzaghi selama menangani Inter. Pelatih berusia 49 tahun itu tetap mampu menghadirkan sejumlah trofi domestik. Prestasi terbaiknya tentu saja saat mempersembahkan gelar Scudetto pada musim 2023/2024, yang sempat mengembalikan dominasi Inter di Serie A.
Namun, bagi Moratti, standar Inter selalu tinggi, apalagi setelah merasakan era treble. Cara pergi seorang pelatih dianggap sama pentingnya dengan prestasi yang ditinggalkan. Dalam kasus Inzaghi, Moratti merasa momen perpisahan itu tidak mencerminkan nilai dan sejarah besar klub.
Pada akhirnya, cerita ini menunjukkan bahwa di Inter Milan, bukan hanya hasil yang dinilai, tapi juga sikap dan timing dalam mengambil keputusan. Dan untuk Moratti, kepergian Simone Inzaghi masih menyisakan ganjalan sampai sekarang.


