Berita Bola – Musim baru 2025/2026 telah dimulai di lima liga top Eropa. Bundesliga dan Serie A resmi memulai pekan lalu, sementara Premier League, LaLiga, dan Ligue 1 sudah lebih dulu berjalan dua laga.
Setiap musim, optimisme tinggi selalu menyelimuti mayoritas klub. Bukan hanya lewat rekrutan pemain baru, melainkan juga melalui pergantian pelatih.
Bursa transfer musim panas ini kembali memecahkan rekor pengeluaran. Klub-klub rela menggelontorkan dana miliaran euro demi membentuk skuad impian.
Namun bukan hanya pemain yang berganti, kursi pelatih juga mengalami pergeseran. Di Serie A saja, tercatat 12 klub mengawali musim ini dengan pelatih baru.
Serie A dikenal sebagai liga yang paling sering melakukan pergantian pelatih. Fenomena ini sudah lama melekat dalam budaya sepak bola Italia.
Bahkan, musim lalu tercipta rekor dengan 14 klub Serie A yang mengawali musim dengan pelatih baru. Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak di lima liga top Eropa.
Data Transfermarkt menunjukkan dominasi Serie A dalam daftar pergantian pelatih. Sementara Bundesliga dan Premier League jauh lebih jarang melakukan hal serupa.
Pergantian pelatih di Italia sering kali melibatkan nama yang sama berulang kali. Tidak jarang seorang pelatih melatih beberapa klub berbeda dalam periode kariernya.
Faktor budaya menjadi alasan utama tingginya frekuensi pergantian pelatih. Klub-klub Italia menaruh perhatian besar pada hasil jangka pendek.
“Secara budaya, klub-klub Italia selalu menempatkan hasil sebagai hal yang sangat penting, dengan fokus pada jangka pendek,” ujar Aniello Luciano, pakar sepak bola Italia dari Transfermarkt.
Proses ini sering kali bertentangan dengan perencanaan jangka panjang. Hal tersebut membuat posisi pelatih rawan meskipun masalah bukan sepenuhnya berasal dari mereka.
Kurangnya kesabaran manajemen turut mempercepat keputusan pergantian. Promosi ke Serie A bahkan kerap diikuti pergantian pelatih tanpa melihat prestasi sebelumnya.
Selain itu, terdapat faktor siklus alami di beberapa klub. Contohnya, Gian Piero Gasperini dan Simone Inzaghi pergi karena dianggap sudah mencapai akhir masa kepemimpinan.