Arenabetting – Chelsea akhirnya benar-benar berpisah dengan Enzo Maresca. Padahal di awal musim, manajemen The Blues sebenarnya masih menyimpan kepercayaan penuh kepada pelatih asal Italia tersebut. Namun dinamika internal klub berkata lain. Kini, kursi manajer resmi diisi oleh Liam Rosenior, sosok yang langsung memicu pro dan kontra di kalangan fans.
Awalnya Tak Ada Rencana Ganti Pelatih
Berdasarkan bocoran dari orang dalam klub, petinggi Chelsea sejatinya tidak punya agenda untuk mengganti manajer di tengah musim. Stabilitas tim masih jadi prioritas utama, apalagi performa Chelsea saat itu belum benar-benar ambruk. Sayangnya, situasi berubah cepat setelah pernyataan Maresca dianggap menyulut api di internal klub.
Komentar Maresca yang menyinggung soal kurangnya dukungan dari lingkungan klub disebut menjadi pemicu utama. Ucapannya dinilai terlalu terbuka dan menyiratkan adanya gangguan dari banyak pihak. Hal tersebut membuat manajemen merasa situasi sudah sulit dikendalikan jika dibiarkan berlarut-larut.
Pernyataan yang Jadi Bumerang
Dalam pernyataan terakhirnya, Maresca menggambarkan bahwa periode menjelang perpisahan adalah masa paling berat sejak dirinya datang ke Stamford Bridge. Ia merasa tidak mendapatkan sokongan yang cukup dan menilai banyak pihak ikut campur terhadap pekerjaannya. Bahkan, ketika ditanya siapa saja yang dimaksud, Maresca menyebut hampir semua orang di sekitar klub.
Kalimat tersebut rupanya dianggap melampaui batas. Alih-alih meredakan suasana, komentar itu justru mempercepat keputusan klub untuk berpisah jalan. Meski Maresca sempat mempersembahkan gelar UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub, manajemen memilih menutup babak tersebut lebih cepat.
Rosenior Bukan Pilihan Dadakan
Menariknya, penunjukan Liam Rosenior ternyata bukan keputusan spontan. Nama Rosenior disebut sudah lama masuk radar petinggi Chelsea sebagai calon pelatih masa depan. Klub menyukai pendekatan sepak bolanya yang berbasis penguasaan bola serta kemampuannya mengembangkan pemain muda, sesuatu yang sejalan dengan proyek jangka panjang Chelsea.
Namun di sisi lain, pengalaman Rosenior masih jadi tanda tanya besar. Ia baru menukangi klub-klub level Championship seperti Derby County dan Hull City, lalu melanjutkan kariernya di Strasbourg selama dua musim terakhir. Jam terbang di level elite jelas belum terlalu panjang.
Judi Besar ala Chelsea?
Tak heran jika penunjukan Rosenior disebut sebagai perjudian besar. Banyak pendukung Chelsea yang masih ragu apakah ia siap menghadapi tekanan luar biasa di Stamford Bridge. Apalagi, sejarah klub menunjukkan bahwa taruhan semacam ini jarang berhasil.
Di era Roman Abramovich, Chelsea dikenal gemar merekrut pelatih top. Satu-satunya perjudian yang benar-benar berbuah manis adalah saat menunjuk Roberto Di Matteo, yang sukses mengantar Chelsea meraih trofi Liga Champions pertama mereka.
Kini pertanyaannya tinggal satu: apakah Liam Rosenior bisa mengulang kisah manis tersebut, atau justru menjadi eksperimen mahal berikutnya? Waktu yang akan menjawab.


