Komunitas Agen Bola, SBOBET, IBCBET, Prediksi Pasaran Bola & Casino Online Terbesar

Berita Bola

Rashford Panen Trofi di Barca, Targetnya Nggak Cuma Satu!

Arenabetting – Marcus Rashford akhirnya merasakan manisnya angkat piala bersama Barcelona. Penyerang asal Inggris itu sukses meraih trofi pertamanya bareng Blaugrana setelah ikut membantu kemenangan 3-2 atas Real Madrid di final Piala Super Spanyol yang digelar di Jeddah, 11 Januari lalu. Meski hanya masuk sebagai pemain pengganti, momen ini jelas jadi awal yang manis buat Rashford di petualangan barunya di Spanyol. Trofi Pertama, Rasanya Selalu Spesial Buat Rashford, gelar ini punya arti penting. Menurutnya, trofi pertama selalu punya rasa yang beda, apalagi di klub sebesar Barcelona. Ia berharap kemenangan ini bukan jadi yang terakhir, tapi justru awal dari rentetan prestasi lain. Rashford juga memuji performa tim yang tampil solid di laga final. Meski masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, ia merasa Barca sudah menunjukkan identitas kuat sebagai tim besar yang siap bersaing di banyak kompetisi. Final El Clasico sendiri berjalan ketat. Barcelona sempat unggul, lalu dikejar Madrid, sebelum akhirnya memastikan kemenangan lewat gol penentu di babak kedua. Atmosfer panas dan tekanan besar justru jadi panggung sempurna buat Rashford merasakan arti laga besar bersama klub barunya. Kontribusi Nyata di Musim Pertama Sejauh ini, Rashford bukan sekadar numpang lewat di skuad Barca. Ia sudah tampil 27 kali di semua kompetisi, dengan 17 di antaranya sebagai starter. Bermain di posisi winger kiri, Rashford mencatatkan tujuh gol dan 11 assist, angka yang cukup solid untuk musim debut di liga baru. Perannya juga penting dalam membuka ruang, menarik bek lawan, dan membantu transisi serangan cepat. Meski tidak selalu mencetak gol, kontribusinya terasa dalam alur permainan tim. Adaptasinya yang relatif cepat jadi nilai plus, apalagi mengingat gaya main La Liga yang cukup berbeda dengan Premier League. Nyaman, Kompak, dan Penuh Rasa Tim Rashford mengaku sangat menikmati hidupnya di Barcelona. Menurutnya, suasana tim yang kompak bikin segalanya terasa lebih ringan. Saat tim menang, segalanya terasa lebih mudah, tapi yang bikin dia betah adalah sikap tim saat kondisi sedang nggak ideal. Ia menilai Barca tetap solid, saling mendukung, dan bertindak sebagai satu kesatuan, bahkan ketika permainan sedang tidak maksimal. Buat Rashford, atmosfer seperti ini bikin dia merasa berada di tempat yang tepat untuk berkembang dan menikmati sepak bola. Status Masih Pinjaman, Tapi Masa Depan Terbuka Saat ini, Rashford masih berstatus pemain pinjaman hingga akhir musim. Namun, Barcelona punya opsi untuk mempermanenkan sang pemain dengan harga sekitar 30 juta euro di musim panas mendatang. Dengan performa yang cukup konsisten dan dampak positif di dalam tim, peluang Rashford untuk bertahan jelas terbuka lebar. Buat Barca, Rashford menawarkan kombinasi kecepatan, pengalaman, dan fleksibilitas di lini depan. Sementara buat Rashford, kesempatan bermain di klub sebesar Barcelona, plus sudah meraih trofi di musim pertama, jelas jadi sinyal positif untuk masa depannya. Baru Mulai, Ambisi Masih Panjang Trofi Piala Super Spanyol mungkin baru satu, tapi buat Rashford, ini bisa jadi batu loncatan besar. Dengan musim yang masih berjalan dan peluang di kompetisi lain, bukan nggak mungkin koleksi gelarnya bakal bertambah. Kalau performanya terus stabil dan chemistry dengan tim makin kuat, Rashford bisa jadi salah satu kepingan penting dalam proyek jangka panjang Barcelona. Dan dari caranya bicara, jelas kelihatan: dia datang bukan cuma buat numpang lewat, tapi buat ikut menulis cerita juara bareng Blaugrana.

Rashford Panen Trofi di Barca, Targetnya Nggak Cuma Satu! Read More »

Ronaldo Frustrasi Usai Diganti, Al Nassr Tumbang dari Al Hilal dan Makin Tertekan

Arenabetting – Al Nassr harus menelan pil pahit saat bertandang ke markas Al Hilal di lanjutan Saudi Pro League. Dalam laga yang digelar Selasa (13/1) dini hari WIB, tim asuhan Jorge Jesus kalah 1-3 meski sempat unggul lebih dulu. Bukan cuma soal hasil, sorotan juga tertuju pada reaksi Cristiano Ronaldo yang terlihat frustrasi saat ditarik keluar di menit-menit akhir. Sempat Unggul, Tapi Ambyar di Babak Kedua Al Nassr sebenarnya mengawali laga dengan cukup oke. Cristiano Ronaldo membuka keunggulan di menit ke-42 lewat penyelesaian khasnya di kotak penalti. Gol itu sempat bikin fans berharap tim tamu bisa mencuri poin di laga besar ini. Sayangnya, cerita berubah total di babak kedua. Al Hilal tampil lebih agresif, tempo meningkat, dan lini belakang Al Nassr mulai kewalahan. Tuan rumah akhirnya berhasil membalikkan keadaan dengan tiga gol balasan, membuat skor akhir jadi 3-1. Kekalahan ini terasa makin menyakitkan karena Al Nassr sebelumnya sempat duduk di puncak klasemen pada Desember lalu. Sekarang, posisi mereka justru makin tertekan. Momen Diganti yang Bikin Ronaldo Jadi Sorotan Di menit ke-83, Ronaldo ditarik keluar dan digantikan oleh Wesley. Keputusan ini langsung memancing reaksi dari sang megabintang. Dari pinggir lapangan, Ronaldo terlihat membuat gestur seolah mengatakan “sudah selesai” sambil mulutnya komat-kamit, tanda jelas kalau dia nggak puas dengan situasi di lapangan. Meski terlihat kesal, Ronaldo tetap menunjukkan respek ke pelatihnya. Ia masih menyempatkan diri menyalami Jorge Jesus sebelum menuju bangku cadangan. Jadi, frustrasinya lebih terlihat ke situasi pertandingan, bukan ke keputusan pelatih semata. Senyum Kecut dan Gestur yang Bikin Netizen Heboh Drama belum berhenti di situ. Saat duduk di bangku cadangan, kamera menyorot wajah Ronaldo yang memberi senyum kecut ke arah lensa. Nggak lama, ia juga terlihat memutar jari-jarinya, gestur yang oleh sebagian orang ditafsirkan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap keputusan wasit atau jalannya pertandingan. Momen ini langsung viral di media sosial. Ada yang bilang Ronaldo merasa timnya “dirampok”, ada juga yang menilai itu cuma luapan emosi karena timnya lagi kalah dan performa sedang turun. Klasemen Makin Ketat, Tekanan Makin Besar Dengan hasil ini, Al Nassr kini berada di peringkat kedua klasemen dengan 31 poin dari 14 laga, tertinggal tujuh angka dari Al Hilal yang makin nyaman di puncak. Situasinya bisa makin rumit karena Al Taawoun masih punya satu laga tunda dan berpeluang memangkas jarak poin. Yang bikin khawatir, Al Nassr juga sedang dalam tren buruk dengan tiga kekalahan beruntun. Dari tim yang sempat memimpin klasemen, kini mereka harus berjuang keras cuma untuk menjaga jarak dari para pesaing. Waktunya Bangkit, Bukan Cuma Emosi Reaksi Ronaldo memang menunjukkan betapa besar keinginannya untuk menang. Tapi sekarang, yang dibutuhkan Al Nassr bukan cuma luapan emosi, melainkan respons di lapangan. Konsistensi, disiplin bertahan, dan ketajaman di depan gawang harus segera dibenahi. Musim masih panjang, tapi kalau tren negatif ini terus berlanjut, mimpi juara bisa makin menjauh. Buat Ronaldo dan kawan-kawan, ini saatnya membuktikan bahwa mereka bisa bangkit, bukan cuma bereaksi saat keadaan lagi nggak berpihak.

Ronaldo Frustrasi Usai Diganti, Al Nassr Tumbang dari Al Hilal dan Makin Tertekan Read More »

Menang Besar, Tapi Spalletti Tetap Rendah Hati: Juventus Belum Selevel Inter dan Napoli

Arenabetting – Juventus baru saja pesta gol, tapi jangan salah, pelatih mereka Luciano Spalletti tetap memilih pasang rem soal ambisi scudetto. Meski Bianconeri menang telak 5-0 atas Cremonese di pekan ke-20 Liga Italia, Selasa (13/1/2026) dini hari WIB, Spalletti menilai timnya masih belum berada di level yang sama dengan Inter Milan dan Napoli. Menang Telak, Posisi Naik, Tapi Belum Aman Kemenangan besar atas Cremonese bikin Juventus naik ke peringkat tiga klasemen sementara dengan koleksi 39 poin. Mereka cuma tertinggal satu angka dari AC Milan di posisi kedua dan empat poin dari Inter yang masih memimpin klasemen. Secara angka memang kelihatan ketat, tapi ada catatan penting: Inter, Milan, dan Napoli masih punya satu laga simpanan. Artinya, posisi Juventus bisa saja kembali tertekan kalau para rival itu memaksimalkan pertandingan tunda mereka. Selain itu, Juventus juga hanya unggul selisih gol dari Napoli dan AS Roma yang punya poin sama. Jadi meski ada di tiga besar, situasinya masih jauh dari kata aman. Spalletti: Level Inter dan Napoli Masih di Atas Alih-alih larut dalam euforia kemenangan, Spalletti justru menyoroti kualitas permainan rival. Ia mengaku sempat menyaksikan langsung duel Inter vs Napoli yang berakhir imbang 2-2 akhir pekan lalu, dan menurutnya, laga itu menunjukkan standar permainan yang sangat tinggi. Spalletti menilai kedua tim tersebut tampil dengan gaya menyerang yang jelas, penuh ide, dan punya karakter kuat yang mencerminkan tangan dingin para pelatihnya. Dari situ, ia merasa Juventus masih harus banyak belajar dan berbenah kalau mau benar-benar bersaing di jalur juara. Menurutnya, Juventus masih perlu memperbaiki banyak aspek, mulai dari konsistensi permainan, pengambilan keputusan di momen penting, sampai cara mengontrol tempo saat menghadapi lawan kuat. Ada Progres, Tapi Masih Harus Dikejar Meski begitu, Spalletti juga nggak sepenuhnya pesimis. Ia melihat ada usaha keras dari para pemain di setiap pertandingan. Dalam tujuh laga terakhir, Juventus juga belum tersentuh kekalahan, yang jelas jadi sinyal positif kalau tim ini sedang berada di jalur yang benar. Masalahnya, untuk level Serie A musim ini, sekadar konsisten belum cukup. Tim-tim papan atas bukan cuma menang, tapi juga dominan secara permainan. Di situlah Spalletti ingin Juventus bisa naik satu tingkat lagi. Ia berharap perubahan itu bisa dilakukan secepat mungkin, karena musim terus berjalan dan persaingan makin ketat dari pekan ke pekan. Ujian Berikutnya: Tandang ke Cagliari Langkah berikutnya buat Juventus adalah laga tandang ke markas Cagliari pada Minggu (18/1) pukul 02.45 WIB. Di atas kertas, ini laga yang harusnya bisa dimenangkan, tapi Serie A sering kali nggak ramah buat tim tamu. Buat Juventus, laga ini penting bukan cuma soal poin, tapi juga soal menjaga momentum dan kepercayaan diri. Kalau ingin terus menempel papan atas, mereka nggak boleh terpeleset di pertandingan seperti ini. Merendah, Tapi Tetap Siap Ngebut Sikap Spalletti yang merendah bisa dibilang realistis. Ia tahu betul kualitas timnya, tapi juga sadar standar yang ditunjukkan Inter dan Napoli saat ini memang tinggi. Daripada terlena dengan satu kemenangan besar, ia memilih fokus ke proses perbaikan. Kalau Juventus bisa terus berkembang dan menutup celah dengan para rival, bukan nggak mungkin mereka bakal ikut serius dalam perburuan scudetto. Tapi untuk sekarang, menurut Spalletti, masih ada jarak yang harus dikejar, dan itu nggak bisa ditempuh dengan santai.

Menang Besar, Tapi Spalletti Tetap Rendah Hati: Juventus Belum Selevel Inter dan Napoli Read More »

MU Lebih Condong ke Michael Carrick, Ini Alasan Solskjaer Kalah Saing

Arenabetting – Manchester United lagi-lagi bikin heboh soal kursi pelatih. Setelah memecat Ruben Amorim, Setan Merah kini dikabarkan bakal menunjuk Michael Carrick sebagai manajer interim sampai akhir musim, bukan Ole Gunnar Solskjaer yang juga sempat masuk radar. Pertanyaannya, kenapa Carrick yang lebih dipilih? Carrick Jadi Kandidat Terkuat di Old Trafford Menurut laporan media Inggris, Carrick saat ini berada di posisi terdepan untuk mengisi kursi manajer interim MU. Jika tidak ada aral melintang, pengumuman resminya diprediksi bakal keluar dalam waktu 48 jam ke depan. Sebelumnya, MU memang mewawancarai lebih dari satu kandidat. Ole Gunnar Solskjaer, yang pernah membawa MU ke final Liga Europa dan finis di papan atas Premier League, juga ikut dipanggil manajemen. Namun, arah angin justru mengarah ke Carrick. Faktor Ruang Ganti Jadi Penentu Salah satu alasan utama kenapa Carrick lebih diunggulkan adalah suara dari dalam ruang ganti. Kabarnya, beberapa pemain senior kurang yakin jika Solskjaer kembali memimpin tim. Mereka lebih nyaman dan percaya dengan pendekatan Carrick. Bukan berarti Ole tak punya jasa besar di MU, tapi sebagian pemain menilai gaya kepemimpinannya kurang cocok dengan kondisi skuad saat ini. Di sisi lain, Carrick dianggap lebih bisa jadi jembatan yang tenang di masa transisi, apalagi situasi MU lagi tidak stabil. Hubungan Baik dengan Pemain dan Klub Carrick dan Solskjaer sejatinya punya sejarah panjang di Old Trafford. Keduanya sama-sama legenda klub dan pernah bekerja bareng saat Ole jadi manajer utama. Carrick bahkan sempat menjadi asistennya dari 2018 sampai 2021. Saat Solskjaer dipecat, Carrick sempat naik jadi manajer interim selama tiga pertandingan. Hasilnya juga cukup oke: dua kemenangan dan satu hasil imbang. Catatan singkat tapi manis ini jadi nilai plus yang masih diingat manajemen dan pemain. Lebih Fokus, Tanpa Drama Masa Lalu Alasan lain yang tak kalah penting, Carrick dinilai bisa bekerja tanpa beban masa lalu. Jika Solskjaer kembali, perbandingan dengan era sebelumnya pasti muncul lagi, dan itu berpotensi menambah tekanan. Sementara Carrick datang dengan status “penjaga sementara”, fokusnya cuma satu: menstabilkan tim dan mengejar target realistis di Premier League. Apalagi MU sudah tersingkir dari Piala FA dan Carabao Cup, jadi satu-satunya harapan musim ini tinggal posisi liga. Tugas Berat Menanti di Liga Inggris Saat ini, MU masih ditangani Darren Fletcher sebagai pelatih sementara, tapi hasilnya belum memuaskan. Imbang lawan Burnley dan kalah dari Brighton jelas bukan modal bagus untuk lanjut musim. Kalau Carrick resmi ditunjuk, tantangannya langsung berat. Jadwal padat dan persaingan ketat di papan tengah sampai atas bikin setiap poin jadi super penting. Target utamanya jelas: mengamankan tiket kompetisi Eropa, kalau bisa Liga Champions. Carrick, Solusi Aman di Tengah Badai? Di kondisi seperti sekarang, MU tampaknya memilih opsi yang dianggap paling aman dan minim konflik. Carrick punya kepercayaan dari pemain, paham kultur klub, dan tidak membawa beban ekspektasi berlebihan. Apakah keputusan ini bakal jadi langkah tepat? Waktu yang bakal menjawab. Tapi yang jelas, MU butuh stabilitas secepatnya, dan Carrick dianggap sosok yang bisa memberikan itu, setidaknya sampai musim ini benar-benar berakhir.

MU Lebih Condong ke Michael Carrick, Ini Alasan Solskjaer Kalah Saing Read More »

Xabi Alonso Cabut dari Madrid, Ternyata Bukan Sekadar Efek Kalah El Clasico

Arenabetting – Kepergian Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid memang bikin kaget banyak orang. Pengumuman resmi datang Selasa (13/1/2026) dini hari WIB, kurang dari 24 jam setelah Los Blancos tumbang 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol. Kelihatannya sih kayak keputusan dadakan, tapi menurut pengamat sepakbola Spanyol Guillem Ballague, cerita aslinya jauh lebih panjang dan rumit. Bukan Sekadar Kalah Final Banyak yang mengira Alonso pergi karena tekanan usai kalah di El Clasico. Tapi Ballague menilai, keputusan ini sudah “matang” sejak beberapa waktu lalu. Kekalahan dari Barcelona cuma jadi pemicu terakhir dari rangkaian masalah yang sudah menumpuk. Menurut Ballague, salah satu isu utama adalah Alonso tak pernah benar-benar mendapat kepercayaan penuh dari Presiden Madrid, Florentino Perez. Mulai dari waktu penunjukan sampai urusan transfer, banyak keputusan yang dinilai tidak sejalan dengan rencana sang pelatih. Waktu Datang yang Nggak Ideal Alonso direkrut Madrid pada Mei lalu dan langsung ditugaskan memimpin tim di Piala Dunia Antarklub 2025. Padahal, ia kabarnya ingin mulai bekerja setelah turnamen itu selesai. Alasannya simpel: pemain baru saja melewati musim panjang dan kondisi tim belum siap secara fisik maupun mental. Namun, Perez tetap meminta Alonso langsung turun tangan. Situasi ini bikin proses adaptasi dan pembangunan tim berjalan setengah-setengah sejak awal. Transfer yang Nggak Sesuai Harapan Masalah berikutnya datang dari bursa transfer. Beberapa pemain yang datang disebut bukan pilihan utama Alonso. Contohnya Franco Mastantuono, yang sampai sekarang belum menunjukkan performa sesuai ekspektasi. Selain itu, Madrid juga gagal mendatangkan Martin Zubimendi, gelandang yang kabarnya sangat diinginkan Alonso untuk menopang gaya main yang lebih seimbang. Tanpa pemain yang cocok, taktik Alonso pun sulit diterapkan secara maksimal. Hasil Kurang Stabil dan Ruang Ganti Memanas Di atas lapangan, Madrid juga tak sepenuhnya meyakinkan. Mereka kalah dari PSG di semifinal Piala Dunia Antarklub, lalu dibantai Atletico Madrid 2-5 di LaLiga, dan akhirnya tumbang lagi dari Barcelona di final Piala Super Spanyol. Meski sempat menang di El Clasico pertama musim ini, hasil besar lainnya justru sering mengecewakan. Situasi di ruang ganti juga disebut mulai panas. Ada momen ketika Vinicius Junior terlihat adu emosi dengan Alonso di pinggir lapangan. Beberapa pemain juga dikabarkan kurang sepenuhnya percaya dengan pendekatan taktik sang pelatih. Momen Mbappe yang Jadi Titik Akhir Puncaknya terjadi di final Piala Super Spanyol. Saat Kylian Mbappe memaksa Alonso menolak guard of honour untuk Barcelona, banyak pihak menilai momen itu sebagai simbol hilangnya kendali Alonso atas situasi tim. Dari situlah, Alonso disebut merasa sudah cukup. Statistik Oke, Tapi Tekanan Terlalu Besar Secara angka, catatan Alonso sebenarnya nggak buruk. Dari 34 pertandingan, Madrid menang 24 kali, imbang empat, dan kalah enam kali. Tapi di klub sebesar Real Madrid, hasil “cukup bagus” sering kali dianggap belum cukup. Akhirnya, Alonso memilih pergi sebelum situasi makin runyam. Kini, tongkat estafet akan dipegang Alvaro Arbeloa sebagai pelatih baru. Pergi dengan Banyak Pelajaran Gagal? Mungkin. Tapi Alonso juga datang di situasi yang nggak ideal dan dengan dukungan yang setengah-setengah. Kepergiannya jadi bukti bahwa di Real Madrid, nama besar saja nggak cukup. Butuh waktu, kepercayaan, dan ruang gerak penuh untuk membangun tim. Dan sayangnya, itu nggak pernah benar-benar didapat Alonso.

Xabi Alonso Cabut dari Madrid, Ternyata Bukan Sekadar Efek Kalah El Clasico Read More »

Pemain Madrid Ucapkan Perpisahan, Era Xabi Alonso Berakhir Lebih Cepat dari Dugaan

Arenabetting – Kepergian Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid benar-benar bikin banyak pihak kaget, termasuk para pemainnya sendiri. Hanya sekitar sehari setelah kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol, Madrid resmi mengumumkan pisah jalan dengan pelatih berusia 44 tahun itu. Padahal, Alonso baru tujuh bulan menukangi Los Blancos sejak menggantikan Carlo Ancelotti di awal musim. Yang bikin makin mengejutkan, kabarnya para pemain baru tahu soal keputusan ini setelah pengumuman resmi klub dirilis. Nggak heran kalau kemudian banyak dari mereka langsung menyampaikan pesan perpisahan lewat media sosial. Mbappe Jadi yang Pertama Buka Suara Kylian Mbappe disebut sebagai pemain pertama yang bereaksi. Lewat Instastory, bintang asal Prancis itu menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Alonso. Menurut Mbappe, meski kebersamaan mereka terbilang singkat, pengalaman bermain di bawah arahan Alonso adalah sesuatu yang berharga. Ia juga menyebut Alonso sebagai pelatih dengan ide yang jelas dan pemahaman sepak bola yang sangat dalam. Mbappe merasa mendapat kepercayaan sejak hari pertama, dan itu jadi salah satu hal yang paling ia hargai. Pesan itu diunggah bersama foto Mbappe dan Alonso, seolah menegaskan bahwa hubungan mereka tetap profesional dan positif meski harus berpisah lebih cepat. Arda Guler: Banyak Belajar dan Tumbuh Tak lama berselang, Arda Guler ikut menyampaikan salam perpisahan yang cukup menyentuh. Gelandang muda asal Turki itu mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan Alonso sejak awal. Di bawah arahan Alonso, Guler tampil cukup menonjol dengan catatan empat gol dan 10 assist dari 34 penampilan. Ia menyebut setiap obrolan, detail kecil, dan tuntutan dari Alonso sangat membantunya berkembang sebagai pemain. Guler juga menegaskan bahwa pengaruh Alonso akan selalu ia ingat dalam perjalanan kariernya, sekaligus mendoakan sang pelatih agar sukses di babak baru hidupnya. Huijsen dan Tchouameni Ikut Berpamitan Selain Mbappe dan Guler, Dean Huijsen dan Aurelien Tchouameni juga ikut mengucapkan perpisahan. Meski singkat, pesan mereka tetap penuh respek. Huijsen berharap yang terbaik untuk masa depan Alonso, sementara Tchouameni menyebut dirinya senang bisa belajar dari salah satu figur besar di dunia sepak bola. Pesan-pesan ini menunjukkan bahwa, meski hasil tim belum maksimal, Alonso tetap meninggalkan kesan positif di ruang ganti. Era Baru Dimulai Bersama Arbeloa Tak butuh waktu lama bagi Madrid untuk menunjuk pengganti. Klub langsung mempromosikan Alvaro Arbeloa dari pelatih tim cadangan ke kursi pelatih tim utama. Mantan bek kanan Madrid itu bakal melakoni debutnya di laga Copa del Rey melawan Levante akhir pekan ini. Buat Madrid, ini adalah awal babak baru. Buat para pemain, ini juga berarti adaptasi lagi dengan gaya dan pendekatan yang berbeda. Singkat, Tapi Berarti Meski hanya tujuh bulan, era Xabi Alonso di Real Madrid tetap meninggalkan cerita. Dari pesan-pesan para pemain, terlihat jelas bahwa ia dihormati dan dianggap punya peran penting dalam perkembangan beberapa nama muda. Perpisahan ini mungkin terasa cepat, tapi dalam sepak bola, perubahan memang datang tanpa banyak peringatan. Sekarang, fokus Madrid sudah beralih ke masa depan, sementara Alonso melangkah ke tantangan baru dengan bekal pengalaman besar dari Santiago Bernabeu.

Pemain Madrid Ucapkan Perpisahan, Era Xabi Alonso Berakhir Lebih Cepat dari Dugaan Read More »