Berita Bola – Performa klub-klub Italia di Liga Champions musim ini benar-benar bikin geleng kepala. Satu per satu tumbang, dan kini bayang-bayang tanpa wakil di fase gugur makin nyata. Situasi ini membuat pelatih legendaris Fabio Capello angkat suara dan membeberkan analisis tajamnya.
Yang terbaru, Inter Milan harus angkat koper usai disingkirkan Bodø/Glimt di babak play-off 16 besar. Pemuncak Serie A itu kalah agregat 2-5 setelah gagal membalikkan keadaan di leg kedua.
Sebelumnya, Napoli juga sudah lebih dulu tersingkir sejak fase liga. Kini harapan Italia tersisa pada Juventus dan Atalanta, yang sama-sama berada dalam posisi sulit jelang leg kedua.
Inter Tumbang, Alarm Bahaya Berbunyi
Kekalahan Inter dari Bodø/Glimt terasa seperti tamparan keras. Secara nama dan pengalaman Eropa, Nerazzurri jelas lebih unggul. Namun di lapangan, mereka terlihat kesulitan menghadapi intensitas permainan lawan.
Capello menilai hasil tersebut bukan sekadar soal teknis atau taktik sesaat. Ia melihat ada persoalan mendasar dalam gaya bermain klub-klub Italia saat ini.
Menurutnya, tim-tim Italia terbiasa memainkan tempo yang lambat di kompetisi domestik. Ketika menghadapi lawan yang mengandalkan pressing cepat dan transisi agresif, mereka kerap kelabakan dan akhirnya melakukan kesalahan sendiri.
Tempo Lambat Jadi Biang Masalah
Dalam pandangannya, masalah utama ada pada ritme permainan. Capello mengisyaratkan bahwa sepak bola Italia kini kurang terbiasa dengan duel keras dan tempo tinggi.
Ia menggambarkan bahwa ketika ritme dinaikkan di Serie A, permainan sering terhenti karena pelanggaran-pelanggaran ringan dianggap terlalu keras. Situasi ini membuat para pemain tidak terbiasa menghadapi tekanan fisik dan kecepatan tinggi seperti yang biasa ditemui di level Eropa.
Akibatnya, saat berhadapan dengan tim yang bermain “press-and-run”, klub-klub Italia terlihat tidak siap. Mereka dipaksa bermain lebih cepat dari biasanya dan justru kehilangan kontrol.
Harapan Terakhir di Ujung Tanduk
Kini, Juventus masih harus mengejar ketertinggalan agregat 2-5 dari Galatasaray. Sementara Atalanta dituntut membalikkan defisit dua gol saat menghadapi Borussia Dortmund.
Jika keduanya gagal, Italia berpotensi tanpa wakil di fase selanjutnya. Sebuah situasi yang jelas memukul harga diri sepak bola Negeri Pizza.
Komentar Capello terasa seperti peringatan keras. Jika ritme permainan domestik tak segera beradaptasi dengan tuntutan sepak bola modern yang serba cepat dan intens, maka jarak dengan elite Eropa bisa makin melebar.
Liga Champions selalu jadi panggung pembuktian. Dan musim ini, wakil Italia tampaknya masih harus banyak berbenah agar tak terus tertinggal dalam persaingan level tertinggi.


