Komunitas Agen Bola, SBOBET, IBCBET, Prediksi Pasaran Bola & Casino Online Terbesar

betarena

Xabi Alonso Cabut dari Madrid, Ternyata Bukan Sekadar Efek Kalah El Clasico

Arenabetting – Kepergian Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid memang bikin kaget banyak orang. Pengumuman resmi datang Selasa (13/1/2026) dini hari WIB, kurang dari 24 jam setelah Los Blancos tumbang 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol. Kelihatannya sih kayak keputusan dadakan, tapi menurut pengamat sepakbola Spanyol Guillem Ballague, cerita aslinya jauh lebih panjang dan rumit. Bukan Sekadar Kalah Final Banyak yang mengira Alonso pergi karena tekanan usai kalah di El Clasico. Tapi Ballague menilai, keputusan ini sudah “matang” sejak beberapa waktu lalu. Kekalahan dari Barcelona cuma jadi pemicu terakhir dari rangkaian masalah yang sudah menumpuk. Menurut Ballague, salah satu isu utama adalah Alonso tak pernah benar-benar mendapat kepercayaan penuh dari Presiden Madrid, Florentino Perez. Mulai dari waktu penunjukan sampai urusan transfer, banyak keputusan yang dinilai tidak sejalan dengan rencana sang pelatih. Waktu Datang yang Nggak Ideal Alonso direkrut Madrid pada Mei lalu dan langsung ditugaskan memimpin tim di Piala Dunia Antarklub 2025. Padahal, ia kabarnya ingin mulai bekerja setelah turnamen itu selesai. Alasannya simpel: pemain baru saja melewati musim panjang dan kondisi tim belum siap secara fisik maupun mental. Namun, Perez tetap meminta Alonso langsung turun tangan. Situasi ini bikin proses adaptasi dan pembangunan tim berjalan setengah-setengah sejak awal. Transfer yang Nggak Sesuai Harapan Masalah berikutnya datang dari bursa transfer. Beberapa pemain yang datang disebut bukan pilihan utama Alonso. Contohnya Franco Mastantuono, yang sampai sekarang belum menunjukkan performa sesuai ekspektasi. Selain itu, Madrid juga gagal mendatangkan Martin Zubimendi, gelandang yang kabarnya sangat diinginkan Alonso untuk menopang gaya main yang lebih seimbang. Tanpa pemain yang cocok, taktik Alonso pun sulit diterapkan secara maksimal. Hasil Kurang Stabil dan Ruang Ganti Memanas Di atas lapangan, Madrid juga tak sepenuhnya meyakinkan. Mereka kalah dari PSG di semifinal Piala Dunia Antarklub, lalu dibantai Atletico Madrid 2-5 di LaLiga, dan akhirnya tumbang lagi dari Barcelona di final Piala Super Spanyol. Meski sempat menang di El Clasico pertama musim ini, hasil besar lainnya justru sering mengecewakan. Situasi di ruang ganti juga disebut mulai panas. Ada momen ketika Vinicius Junior terlihat adu emosi dengan Alonso di pinggir lapangan. Beberapa pemain juga dikabarkan kurang sepenuhnya percaya dengan pendekatan taktik sang pelatih. Momen Mbappe yang Jadi Titik Akhir Puncaknya terjadi di final Piala Super Spanyol. Saat Kylian Mbappe memaksa Alonso menolak guard of honour untuk Barcelona, banyak pihak menilai momen itu sebagai simbol hilangnya kendali Alonso atas situasi tim. Dari situlah, Alonso disebut merasa sudah cukup. Statistik Oke, Tapi Tekanan Terlalu Besar Secara angka, catatan Alonso sebenarnya nggak buruk. Dari 34 pertandingan, Madrid menang 24 kali, imbang empat, dan kalah enam kali. Tapi di klub sebesar Real Madrid, hasil “cukup bagus” sering kali dianggap belum cukup. Akhirnya, Alonso memilih pergi sebelum situasi makin runyam. Kini, tongkat estafet akan dipegang Alvaro Arbeloa sebagai pelatih baru. Pergi dengan Banyak Pelajaran Gagal? Mungkin. Tapi Alonso juga datang di situasi yang nggak ideal dan dengan dukungan yang setengah-setengah. Kepergiannya jadi bukti bahwa di Real Madrid, nama besar saja nggak cukup. Butuh waktu, kepercayaan, dan ruang gerak penuh untuk membangun tim. Dan sayangnya, itu nggak pernah benar-benar didapat Alonso.

Xabi Alonso Cabut dari Madrid, Ternyata Bukan Sekadar Efek Kalah El Clasico Read More »

Pemain Madrid Ucapkan Perpisahan, Era Xabi Alonso Berakhir Lebih Cepat dari Dugaan

Arenabetting – Kepergian Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid benar-benar bikin banyak pihak kaget, termasuk para pemainnya sendiri. Hanya sekitar sehari setelah kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol, Madrid resmi mengumumkan pisah jalan dengan pelatih berusia 44 tahun itu. Padahal, Alonso baru tujuh bulan menukangi Los Blancos sejak menggantikan Carlo Ancelotti di awal musim. Yang bikin makin mengejutkan, kabarnya para pemain baru tahu soal keputusan ini setelah pengumuman resmi klub dirilis. Nggak heran kalau kemudian banyak dari mereka langsung menyampaikan pesan perpisahan lewat media sosial. Mbappe Jadi yang Pertama Buka Suara Kylian Mbappe disebut sebagai pemain pertama yang bereaksi. Lewat Instastory, bintang asal Prancis itu menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Alonso. Menurut Mbappe, meski kebersamaan mereka terbilang singkat, pengalaman bermain di bawah arahan Alonso adalah sesuatu yang berharga. Ia juga menyebut Alonso sebagai pelatih dengan ide yang jelas dan pemahaman sepak bola yang sangat dalam. Mbappe merasa mendapat kepercayaan sejak hari pertama, dan itu jadi salah satu hal yang paling ia hargai. Pesan itu diunggah bersama foto Mbappe dan Alonso, seolah menegaskan bahwa hubungan mereka tetap profesional dan positif meski harus berpisah lebih cepat. Arda Guler: Banyak Belajar dan Tumbuh Tak lama berselang, Arda Guler ikut menyampaikan salam perpisahan yang cukup menyentuh. Gelandang muda asal Turki itu mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan Alonso sejak awal. Di bawah arahan Alonso, Guler tampil cukup menonjol dengan catatan empat gol dan 10 assist dari 34 penampilan. Ia menyebut setiap obrolan, detail kecil, dan tuntutan dari Alonso sangat membantunya berkembang sebagai pemain. Guler juga menegaskan bahwa pengaruh Alonso akan selalu ia ingat dalam perjalanan kariernya, sekaligus mendoakan sang pelatih agar sukses di babak baru hidupnya. Huijsen dan Tchouameni Ikut Berpamitan Selain Mbappe dan Guler, Dean Huijsen dan Aurelien Tchouameni juga ikut mengucapkan perpisahan. Meski singkat, pesan mereka tetap penuh respek. Huijsen berharap yang terbaik untuk masa depan Alonso, sementara Tchouameni menyebut dirinya senang bisa belajar dari salah satu figur besar di dunia sepak bola. Pesan-pesan ini menunjukkan bahwa, meski hasil tim belum maksimal, Alonso tetap meninggalkan kesan positif di ruang ganti. Era Baru Dimulai Bersama Arbeloa Tak butuh waktu lama bagi Madrid untuk menunjuk pengganti. Klub langsung mempromosikan Alvaro Arbeloa dari pelatih tim cadangan ke kursi pelatih tim utama. Mantan bek kanan Madrid itu bakal melakoni debutnya di laga Copa del Rey melawan Levante akhir pekan ini. Buat Madrid, ini adalah awal babak baru. Buat para pemain, ini juga berarti adaptasi lagi dengan gaya dan pendekatan yang berbeda. Singkat, Tapi Berarti Meski hanya tujuh bulan, era Xabi Alonso di Real Madrid tetap meninggalkan cerita. Dari pesan-pesan para pemain, terlihat jelas bahwa ia dihormati dan dianggap punya peran penting dalam perkembangan beberapa nama muda. Perpisahan ini mungkin terasa cepat, tapi dalam sepak bola, perubahan memang datang tanpa banyak peringatan. Sekarang, fokus Madrid sudah beralih ke masa depan, sementara Alonso melangkah ke tantangan baru dengan bekal pengalaman besar dari Santiago Bernabeu.

Pemain Madrid Ucapkan Perpisahan, Era Xabi Alonso Berakhir Lebih Cepat dari Dugaan Read More »

Blunder Szoboszlai Bikin Pelatih Barnsley Geram: Dinilai Kurang Respek ke Lawan

Arenabetting – Liverpool memang sukses melaju ke babak keempat Piala FA usai membantai Barnsley 4-1, tapi di balik kemenangan itu, ada satu momen yang bikin pelatih Barnsley, Conor Hourihane, naik pitam. Bukan soal skor besar, melainkan blunder Dominik Szoboszlai yang berujung gol hiburan buat tim tamu, tapi dinilai sebagai aksi yang kurang menghormati lawan. Szoboszlai Tampil Gacor, Tapi Ada Satu Momen Apes Secara keseluruhan, Szoboszlai tampil oke banget di laga babak ketiga Piala FA yang digelar Selasa (13/1) dini hari WIB. Gelandang asal Hungaria itu membuka keunggulan Liverpool dan terlibat dalam proses dua gol lainnya. Pergerakannya aktif, distribusi bolanya rapi, dan dia jadi salah satu motor serangan The Reds. Tapi di tengah performa solid itu, ada satu kesalahan fatal yang langsung jadi sorotan. Di akhir babak kedua, Szoboszlai turun membantu pertahanan saat Barnsley mengirim bola ke kotak penalti. Kesalahan di Kotak Enam Yard yang Berbuah Gol Masalah muncul ketika Szoboszlai menerima bola di area berbahaya, tepatnya di dalam kotak enam yard, sambil ditempel ketat oleh Adam Phillips. Bukannya langsung membuang bola, Szoboszlai justru mencoba mengontrol, tapi malah kehilangan penguasaan. Phillips yang sudah siap langsung menyambar bola dan menceploskannya ke gawang Liverpool. Gol itu memang cuma memperkecil ketertinggalan, tapi jadi momen penting buat Barnsley yang setidaknya bisa mencetak satu gol di laga besar ini. Liverpool Tetap Lolos, Tapi Komentar Hourihane Pedas Meski sempat kebobolan, Liverpool tetap mengunci kemenangan lewat gol Florian Wirtz dan Hugo Ekitike yang masuk sebagai pemain pengganti. Dua gol di 10 menit terakhir memastikan skor akhir 4-1 dan tiket ke babak keempat Piala FA tetap aman di tangan tuan rumah. Namun buat Hourihane, kesalahan Szoboszlai bukan sekadar blunder biasa. Ia menilai gelandang Liverpool itu meremehkan timnya. Menurutnya, Szoboszlai tidak akan melakukan aksi serupa jika menghadapi lawan sekelas Arsenal, Chelsea, atau di laga Liga Champions. Hourihane mengaku kecewa karena merasa gol yang didapat timnya lahir dari situasi yang seharusnya tidak terjadi di level profesional. Ia juga menilai para pemain Barnsley sudah tampil maksimal, tapi tetap kalah kelas dari Liverpool. Dinilai Kurang Respek, Bukan Sekadar Salah Teknis Saat ditanya apakah blunder itu bisa dianggap tidak sopan atau kurang menghormati lawan, Hourihane mengiyakan. Ia menegaskan bahwa Szoboszlai hampir pasti tak akan bermain ceroboh di situasi serupa jika lawannya tim besar. Pernyataan ini langsung memicu perdebatan. Ada yang menganggap ini cuma kesalahan biasa yang bisa terjadi pada siapa saja. Tapi dari sudut pandang pelatih Barnsley, sikap santai di area berbahaya itu terasa seperti meremehkan tekanan lawan. Pelajaran Penting di Tengah Kemenangan Buat Liverpool, hasil akhir jelas memuaskan. Tapi momen ini jadi pengingat bahwa sedikit lengah bisa langsung dihukum, bahkan oleh tim dari divisi lebih bawah. Di kompetisi sekelas Piala FA, kejutan selalu bisa terjadi kalau fokus hilang. Sementara buat Barnsley, meski tersingkir, setidaknya mereka pulang dengan satu gol dan perlawanan yang bikin pelatih mereka tetap bangga. Dan soal Szoboszlai, mungkin ini cuma satu kesalahan kecil, tapi cukup besar untuk memicu drama setelah laga.

Blunder Szoboszlai Bikin Pelatih Barnsley Geram: Dinilai Kurang Respek ke Lawan Read More »

Valdano Bongkar Fakta di Balik Perginya Xabi Alonso: Madrid Nggak Pernah Dukung Penuh

Arenabetting – Kepergian Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid masih jadi bahan obrolan hangat. Banyak yang mengira semua ini cuma efek kalah dari Barcelona di final Piala Super Spanyol 2026, tapi menurut Jorge Valdano, masalahnya jauh lebih dalam. Eks pelatih, direktur, sekaligus legenda Madrid itu menilai Alonso sebenarnya sudah berada di situasi yang nggak ideal sejak hari pertama. Datang dengan Harapan Besar, Pergi Terlalu Cepat Madrid resmi berpisah dengan Alonso pada Selasa (13/1) dini hari WIB, hanya sehari setelah kalah 2-3 dari Barcelona di Jeddah. Padahal, kontrak Alonso sejatinya masih berlaku sampai 2028. Artinya, ia cuma sempat memimpin tim sekitar tujuh bulan sejak menggantikan Carlo Ancelotti di musim panas lalu. Buat ukuran klub sebesar Madrid, waktu segitu jelas terlalu singkat untuk membangun fondasi permainan yang benar-benar matang. Valdano pun merasa Alonso tak pernah benar-benar diberi kondisi yang pas untuk menjalankan idenya. Skuad Nggak Cocok dengan Filosofi Alonso Salah satu poin utama yang disorot Valdano adalah komposisi pemain. Menurutnya, gaya main yang ingin diterapkan Alonso butuh gelandang kreatif yang bisa mengatur tempo. Masalahnya, Madrid justru kehilangan Toni Kroos dan Luka Modric dalam dua musim panas terakhir, tapi tidak mendatangkan pengganti yang sepadan. Tanpa playmaker murni, skema permainan Alonso jadi sulit berkembang. Tim sering terlihat kehilangan arah saat membangun serangan, dan transisi dari bertahan ke menyerang kerap nggak mulus. Valdano menyebut, tanpa pemain yang tepat, sehebat apa pun ide pelatih, hasilnya tetap bakal setengah-setengah. Tanda-Tanda Kurang Percaya Diri dari Petinggi Klub Valdano juga menyinggung soal sikap Presiden Florentino Perez. Saat performa tim mulai menurun sejak November, ia menilai kepercayaan Perez terhadap Alonso ikut goyah. Bahkan, di pidato Natal klub, nama Alonso disebut tidak disinggung sama sekali, sesuatu yang dianggap Valdano sebagai sinyal bahaya. Buat seorang pelatih, merasa tidak disebut dan tidak ditegaskan dukungannya oleh petinggi klub tentu berdampak besar ke psikologis dan wibawa di ruang ganti. Dari situlah, Valdano merasa Alonso sudah berada di posisi yang serba nggak pasti. Cedera, Tekanan, dan Ruang Ganti yang Nggak Tenang Selain masalah skuad, Madrid juga dihantam badai cedera di beberapa posisi penting. Situasi ini bikin Alonso harus terus mengutak-atik formasi, yang akhirnya berdampak ke konsistensi permainan. Identitas tim pun terasa kabur, nggak seperti Madrid yang biasanya tampil dominan dan percaya diri. Valdano menyebut banyak tim besar pernah kehilangan identitas gara-gara kehilangan gelandang kunci. Madrid, menurutnya, sedang berada di fase itu, dan Alonso harus menanggung akibat dari kondisi yang sebenarnya bukan sepenuhnya salahnya. Arbeloa Datang, Alonso Pergi dengan Banyak Tanda Tanya Kini, Madrid menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pelatih baru, promosi dari tim cadangan. Sebuah langkah yang menunjukkan klub ingin memulai lagi dari dalam. Tapi tetap saja, kepergian Alonso menyisakan banyak tanda tanya, terutama soal apakah ia benar-benar diberi kesempatan yang adil. Menurut Valdano, Alonso sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tanpa dukungan penuh dan skuad yang sesuai, hasil besar memang sulit diraih. Dan di Real Madrid, waktu adalah barang mewah. Kalau hasil tak langsung terlihat, perubahan cepat hampir selalu jadi jalan keluar.

Valdano Bongkar Fakta di Balik Perginya Xabi Alonso: Madrid Nggak Pernah Dukung Penuh Read More »

Laporta Sentil Mbappe dan Madrid: El Clasico Panas, Sportivitas Jadi Sorotan

Arenabetting – Final Piala Super Spanyol 2026 antara Barcelona vs Real Madrid bukan cuma panas di lapangan, tapi juga berbuntut panjang setelah laga. Presiden Barcelona, Joan Laporta, ikut angkat suara dan secara terbuka mengecam sikap Kylian Mbappe usai Madrid kalah 2-3 dari Barca, Senin (12/1) dini hari WIB. Bukan cuma Mbappe, skuad Madrid secara umum juga kena “sengatan” dari orang nomor satu di Camp Nou itu. Aksi Mbappe yang Jadi Pemicu Kontroversi Sorotan utama tertuju ke momen setelah pertandingan berakhir. Saat Barcelona dinobatkan sebagai juara, Mbappe terlihat mengajak rekan-rekannya untuk langsung masuk ke ruang ganti dan tidak melakukan guard of honor kepada Barcelona. Padahal, dalam tradisi Piala Super Spanyol, tim yang kalah di final biasanya tetap memberikan penghormatan kepada juara sebagai bentuk sportivitas. Gestur Mbappe yang terlihat buru-buru mengajak tim meninggalkan lapangan pun langsung memancing reaksi, baik dari fans maupun pihak Barcelona. Laporta: Menang dan Kalah Harus Tetap Berkelas Laporta mengaku terkejut dengan sikap Mbappe tersebut. Menurutnya, dalam olahraga, rasa hormat harus tetap dijaga, apa pun hasil akhirnya. Ia menekankan bahwa Barcelona selalu berusaha menunjukkan sikap sportif, baik saat menang maupun kalah. Bagi Laporta, final bukan cuma soal trofi, tapi juga soal bagaimana tim menunjukkan karakter. Ia merasa apa yang dilakukan Mbappe kurang mencerminkan nilai-nilai sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi di laga sebesar El Clasico. El Clasico Makin Panas Sejak Awal Musim Laporta juga menyinggung bahwa tensi antara dua raksasa Spanyol ini memang sudah panas sejak awal musim. Insiden ejekan Lamine Yamal di pertemuan liga sebelumnya sempat bikin suasana makin panas, apalagi Madrid saat itu berhasil menang 2-1 di Santiago Bernabeu. Namun, kemenangan itu jadi satu-satunya yang diraih Madrid dalam lima pertemuan terakhir melawan Barcelona sejak musim 2024/2025. Selebihnya, Barca lebih sering keluar sebagai pemenang atau setidaknya tak kalah. Situasi ini, menurut Laporta, bisa menjelaskan mengapa emosi pemain Madrid tampak lebih meledak di final Piala Super Spanyol. Frustrasi Madrid, Emosi Mbappe Bisa Dipahami? Meski mengkritik, Laporta juga mencoba melihat dari sisi manusiawi. Ia mengaku tidak melihat Mbappe tampil emosional berlebihan selama pertandingan, tapi ia bisa membayangkan betapa sulitnya menerima kekalahan di laga sebesar final El Clasico. Menurutnya, rasa frustrasi karena hasil buruk dan rekor kurang oke melawan Barcelona bisa membuat reaksi pemain jadi tidak terkontrol. Meski begitu, ia tetap menegaskan bahwa reaksi emosional tidak seharusnya mengalahkan sikap sportif. Rivalitas Tinggi, Sportivitas Tetap Nomor Satu El Clasico memang selalu penuh gengsi dan emosi. Tapi komentar Laporta jadi pengingat bahwa rivalitas setinggi apa pun tetap butuh dibarengi sikap saling menghormati. Menang atau kalah, sikap di akhir laga sering kali jadi cerminan karakter sebuah tim. Bagi Barcelona, kemenangan ini bukan cuma soal trofi, tapi juga soal dominasi mental atas rival abadinya. Sementara bagi Madrid dan Mbappe, insiden ini mungkin bakal jadi bahan evaluasi, bukan cuma soal taktik, tapi juga soal bagaimana menyikapi kekalahan di panggung besar.

Laporta Sentil Mbappe dan Madrid: El Clasico Panas, Sportivitas Jadi Sorotan Read More »

Derbi Paris Berujung Duka, PSG Tersingkir Dini dari Coupe de France

Arenabetting – Hasil mengejutkan datang dari Coupe de France 2025/2026. Paris Saint-Germain harus angkat koper lebih cepat setelah kalah tipis 0-1 dari Paris FC di laga derbi Paris. Bermain di kandang sendiri, Parc des Princes, Selasa (13/1/2026) dini hari WIB, Les Parisiens justru tampil buntu dan gagal mempertahankan statusnya sebagai juara bertahan. Turun dengan Skuad Terbaik, Tapi Mandul PSG sejatinya tidak main-main di pertandingan ini. Luis Enrique menurunkan deretan pemain inti sejak menit awal dengan harapan bisa mengamankan tiket ke babak berikutnya tanpa drama. Dominasi penguasaan bola memang terlihat, tapi dominasi itu tak banyak berarti tanpa penyelesaian akhir yang tajam. Di babak pertama, PSG berkali-kali mencoba membongkar pertahanan Paris FC lewat kombinasi cepat dan tusukan dari sisi sayap. Sayangnya, rapatnya lini belakang tim tamu bikin peluang PSG mentok di area kotak penalti. Beberapa tembakan jarak jauh pun masih bisa diamankan atau melenceng dari sasaran. Skor kacamata bertahan sampai turun minum. Ikone Jadi Pembeda, PSG Kena Serangan Balik Masuk babak kedua, PSG tetap menekan dan mencoba menaikkan tempo. Tapi justru di saat mereka asyik menyerang, Paris FC berhasil mencuri momen lewat serangan balik cepat. Pada menit ke-74, Jonathan Ikone sukses memanfaatkan celah di pertahanan PSG dan melepaskan tembakan yang tak mampu dibendung kiper tuan rumah. Gol itu langsung bikin stadion senyap. PSG mencoba bangkit dengan menambah intensitas serangan di sisa waktu pertandingan. Beberapa pergantian pemain dilakukan demi menambah daya gedor, tapi lagi-lagi, finishing jadi masalah utama. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 1-0 untuk Paris FC tetap bertahan. PSG pun harus menerima kenyataan pahit tersingkir di babak 32 besar. Juara Bertahan Gugur, Tekanan ke Luis Enrique Meningkat Tersingkirnya PSG di fase awal jelas jadi tamparan keras. Apalagi mereka datang ke turnamen ini dengan status juara bertahan. Harapan untuk mempertahankan trofi langsung pupus, dan fokus pun kini tinggal di kompetisi liga serta ajang Eropa. Kegagalan ini juga membuat sorotan ke Luis Enrique makin besar. Bukan karena susunan pemain, tapi karena efektivitas permainan yang masih jadi pekerjaan rumah. Dominan tapi minim gol jelas bukan ciri tim yang ingin berburu banyak gelar. Paris FC Rayakan Kemenangan Bersejarah Di sisi lain, kemenangan ini jadi momen emas buat Paris FC. Mengalahkan PSG di derbi kota, apalagi di kandang lawan, jelas bukan pencapaian biasa. Gol Ikone akan jadi kenangan manis yang sulit dilupakan oleh para fans Paris FC. Hasil ini juga membuktikan bahwa di Coupe de France, kejutan selalu bisa terjadi. Nama besar dan status juara bertahan tak menjamin apa pun kalau di lapangan tidak tampil efektif. PSG Harus Cepat Bangkit Buat PSG, kekalahan ini memang menyakitkan, tapi musim masih panjang. Tantangan terbesar sekarang adalah bagaimana merespons kegagalan ini tanpa kehilangan fokus di kompetisi lain. Kalau tidak cepat bangkit, bukan tak mungkin hasil buruk ini berdampak ke performa mereka di laga-laga berikutnya. Derbi sudah lewat, trofi sudah lepas, sekarang tinggal bagaimana PSG belajar dari kesalahan dan kembali menunjukkan mental juara. Karena di klub sebesar PSG, satu kegagalan saja bisa langsung berubah jadi tekanan besar.

Derbi Paris Berujung Duka, PSG Tersingkir Dini dari Coupe de France Read More »