Berita Bola – Vinícius Júnior kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena performanya di lapangan, tetapi juga karena isu serius yang terus menghantui kariernya. Penyerang Real Madrid tersebut dilaporkan sudah mengalami 26 insiden pelecehan rasis sejak 2021. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan diskriminasi di sepak bola Spanyol belum benar-benar tuntas.
Kasus terbaru terjadi saat Real Madrid bertandang ke markas Osasuna di Stadion El Sadar dalam lanjutan LaLiga, Sabtu (21/2/2026). Berdasarkan laporan The Athletic, Vinicius disebut menjadi target ujaran rasis dari sejumlah suporter tuan rumah. Insiden tersebut langsung memicu langkah investigasi dari pihak LaLiga.
Terjadi di Banyak Stadion, Bukan Kasus Tunggal
Sejak Oktober 2021, Vinicius tercatat mengalami pelecehan rasis di 10 stadion berbeda di Spanyol. Total 26 insiden dalam kurun lima tahun terakhir menjadi catatan kelam yang terus membayangi perjalanan kariernya di kompetisi domestik.
Kasus-kasus ini bukan hanya berupa ejekan verbal, tetapi juga gestur bernada penghinaan yang dilakukan sebagian oknum suporter. Situasi tersebut dinilai sudah melewati batas dan membutuhkan tindakan tegas dari otoritas sepak bola.
Banyak pihak menilai bahwa hukuman yang diberikan selama ini belum cukup memberikan efek jera. Isu rasisme pun kembali menjadi perbincangan serius di lingkungan LaLiga.
Insiden di Liga Champions Ikut Menambah Daftar
Masalah tak hanya terjadi di kompetisi domestik. Dalam laga Liga Champions melawan Benfica di Estadio da Luz, Rabu (18/2/2026), Vinicius juga dilaporkan menjadi korban dugaan rasisme.
Pemain Benfica, Gianluca Prestianni, disebut diduga melontarkan kata bernada penghinaan rasial tak lama setelah Vinicius mencetak gol kemenangan Real Madrid pada menit ke-50. Merasa dilecehkan, Vinicius langsung mengadukan kejadian tersebut kepada wasit dan sempat menghentikan permainan sebagai bentuk protes.
Real Madrid bergerak cepat dengan mengirimkan bukti kejadian kepada UEFA untuk ditindaklanjuti. Klub asal ibu kota Spanyol itu dinilai cukup aktif dalam mengawal kasus-kasus yang menimpa pemainnya.
Desakan untuk Sanksi Lebih Tegas
Rentetan kejadian ini memunculkan tuntutan agar LaLiga dan UEFA lebih tegas dalam menjatuhkan hukuman. Banyak pengamat menilai bahwa tanpa sanksi berat, insiden serupa akan terus berulang.
Vinicius sendiri dikenal sebagai salah satu pemain paling bersinar di Real Madrid dalam beberapa musim terakhir. Namun, di balik prestasinya, ia harus menghadapi tekanan mental akibat perlakuan diskriminatif yang terus muncul.
Kasus yang berulang ini menjadi pengingat bahwa sepak bola masih punya pekerjaan rumah besar dalam memerangi rasisme. Dukungan terhadap Vinicius pun mengalir dari berbagai pihak, termasuk pemain, pelatih, hingga organisasi anti-diskriminasi.
Kini, publik menanti langkah konkret dari otoritas sepak bola. Sebab, jika tidak ada perubahan nyata, angka 26 itu dikhawatirkan bukan menjadi yang terakhir.


