Komunitas Agen Bola, SBOBET, IBCBET, Prediksi Pasaran Bola & Casino Online Terbesar

Berita Bola

Butuh Tambahan Penyerang, AC Milan Incar Striker Milik Borussia Dortmund Ini

Berita Bola – AC Milan kembali dikaitkan dengan manuver penting di bursa transfer Januari. Klub tersebut sedang mencari solusi untuk lini serang yang dinilai kurang menggigit dalam beberapa pekan terakhir. Performa inkonsisten para penyerang membuat Milan harus bergerak cepat untuk memperkuat tim. Situasi ini membuka peluang bagi beberapa nama, termasuk Fabio Silva yang tengah mengalami masa sulit di Borussia Dortmund. Penyerang 23 tahun asal Portugal itu minim menit bermain musim ini sehingga digadang-gadang bisa menjadi target potensial bagi Milan. Kondisi tersebut juga diamini oleh jurnalis bursa transfer ternama, Fabrizio Romano. Dalam laporan terbarunya, Romano mengatakan bahwa ada kemungkinan nyata Fabio Silva mencari jalan keluar pada Januari. Ia menegaskan bahwa sang pemain sedang mempertimbangkan opsi hengkang, dan Milan menjadi salah satu klub yang memantau situasi tersebut secara serius. Musim ini berjalan berat bagi Fabio Silva. Ia baru mencatatkan 128 menit di seluruh kompetisi bersama Dortmund. Di Bundesliga, Silva hanya mendapat 30 menit bermain dan baru menorehkan satu assist dari lima penampilan. Sementara itu, golnya justru lahir di Liga Champions dalam waktu bermain 62 menit. Minimnya kepercayaan dari pelatih jelas membuat masa depan Silva diselimuti tanda tanya. Fabrizio Romano, dalam video di kanal YouTube Italia miliknya bersama Matteo Moretto, memaparkan bagaimana kondisi sang penyerang. “Dia pergi ke Dortmund pada musim panas, seskipun ada ketertarikan musim panas lalu, tetapi dia tidak bermain. Dia sangat kesulitan, dan dia mempertimbangkan untuk pergi pada Januari. Ini kemungkinan nyata,” ujar Romano. Romano menambahkan bahwa sejumlah klub telah memasukkan Silva dalam radar transfer mereka. Juventus menjadi salah satu yang dikabarkan tertarik. AS Roma pun sempat mempertimbangkan nama tersebut. “Jadi, perhatikan Fabio Silva, karena di antara berbagai tim yang tertarik pada pemain menyerang. Ada beberapa, mungkin Juventus; dalam hal serangan, Roma tentu; dan kita akan lihat apa yang terjadi dengan Milan dengan Gimenez,” lanjutnya. AC Milan memang sedang membutuhkan sentuhan baru di lini depan. Dalam beberapa pertandingan terakhir, kontribusi gol hanya datang dari Rafael Leao dan Christian Pulisic. Santiago Gimenez dan Christopher Nkunku belum menunjukkan taji mereka di liga sehingga opsi tambahan menjadi penting. Nama-nama seperti Niclas Fullkrug dan Franculino sempat masuk daftar pertimbangan Rossoneri. Akan tetapi, Fabio Silva kini menjadi alternatif yang mulai serius diperhitungkan. Pengalaman bermain di level top Eropa serta usia yang masih muda dianggap sejalan dengan proyek jangka panjang Milan. Romano juga menegaskan bahwa Silva membuka peluang bagi klub mana pun yang mampu menawarkan menit bermain lebih stabil. “Ada sejumlah posisi yang bisa diisi, dan Fabio Silva adalah salah satu yang harus diperhatikan, karena saya diberi tahu bahwa sang pemain benar-benar mempertimbangkan kepergian pada Januari,” ujarnya. Ia bahkan mengungkap bahwa Roma sempat memikirkan langkah konkret. “Roma sempat mempertimbangkannya lebih dari sekadar angan. Ketika namanya bocor, terutama di media, sang pemain tidak acuh terhadap keinginan seperti itu.” Dengan kebutuhan mendesak di lini depan dan situasi Silva yang tak menentu di Dortmund, Januari bisa menjadi bulan yang menarik bagi Milan. Jika ada celah, bukan tak mungkin Rossoneri bergerak cepat untuk mengamankan penyerang muda tersebut.

Butuh Tambahan Penyerang, AC Milan Incar Striker Milik Borussia Dortmund Ini Read More »

Curhat Pilu Yann Bisseck Setelah Inter Milan Dikalahkan Ditekuk Atletico Madrid di Liga Champions

Berita Bola – Inter Milan pulang dengan tangan hampa dari markas Atletico Madrid di lanjutan Liga Champions. Kekalahan 1-2 ini terasa sangat menyakitkan bagi skuad Nerazzurri. Mereka merasa tampil dominan sepanjang laga berjalan di Metropolitano, Kamis (27/11/2025). Namun, dewi fortuna sepertinya tidak berpihak pada wakil Italia tersebut. Rasa frustrasi menyelimuti ruang ganti tim asuhan Cristian Chivu tersebut usai peluit panjang. Hasil akhir dinilai sama sekali tidak mencerminkan kerja keras di lapangan. Bek Inter, Yann Bisseck, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebut Inter Milan tidak pantas menelan kekalahan pahit dari Atletico Madrid seperti ini. Bisseck merasa timnya sudah memberikan segalanya di atas lapangan. Pertahanan mereka hanya ditembus dua kali dari sedikit peluang lawan. Pemain bertahan itu menilai Inter tampil solid secara keseluruhan. Namun hasil akhir berkata lain. “Dalam sepak bola ini terjadi, terkadang Anda memberikan segalanya,” ujar Bisseck kepada Amazon Prime Video. “Kami tidak pantas kalah hari ini, tapi begitulah sepak bola,” lanjutnya dengan nada kecewa. Ia berharap keberuntungan akan berbalik di masa depan. Kerja keras tim diyakini akan segera membuahkan hasil. “Kami akan terus bekerja, dan mungkin di masa depan kami punya sedikit lebih banyak keberuntungan,” tambahnya. Bisseck menyoroti efektivitas lawan yang dianggapnya kejam. Inter kebobolan dua gol dari peluang yang sangat minim. Fakta ini membuat kekalahan terasa makin tidak adil. Statistik permainan seolah tidak berarti apa-apa. “Kami memberikan segalanya, kami menerima dua atau tiga tembakan lalu dua gol,” keluhnya. “Ini tidak adil, tapi itulah sepak bola,” tegas Bisseck. Meski kecewa berat, ia tetap memuji performa rekan-rekannya. Tidak ada yang perlu disalahkan secara personal dalam tim. “Saya senang dengan kinerja tim, kami melakukan hal baik. Ada hal yang perlu diperbaiki, tapi saya tak bisa menjelekkan tim,” ucapnya. “Ini menyakitkan, sangat buruk. Saya tidak tahu harus berkata apa,” tutup Bisseck. Senada dengan Bisseck, Ange-Yoan Bonny juga merasakan kepedihan mendalam. Namun, penyerang Prancis ini menolak untuk menyerah. Bonny menekankan pentingnya mentalitas untuk segera bangkit. Kekalahan dramatis ini harus jadi pelajaran berharga. “Pada akhirnya ini menyakitkan, tapi ini bagian dari permainan,” kata Bonny kepada Sky Sport. “Kami mengangkat kepala kami, Anda jatuh dan kemudian Anda bangkit kembali,” serunya penuh semangat. Bermain di kandang tim sekelas Atletico memang selalu menyulitkan. Bonny menyadari perlunya fokus ekstra di laga-laga besar. Pengalaman pahit ini diharapkan mendewasakan permainan Inter. Mereka harus lebih klinis di momen-momen krusial. “Kami harus belajar dari pertandingan seperti ini, melawan tim hebat di lingkungan yang sulit,” jelas Bonny. “Tapi untuk menang, Anda harus melakukannya dengan cara ini,” tambahnya. Kekalahan ini menambah luka setelah hasil buruk lawan AC Milan sebelumnya. Namun skuad asuhan Cristian Chivu tetap percaya diri dengan kualitas mereka. “Ini pahit, karena kami tahu kualitas kami. Hari ini sulit, tapi Anda jatuh dan Anda bangkit lagi,” tegasnya. Kini fokus Inter beralih ke laga domestik selanjutnya. Mereka dijadwalkan akan bertandang ke markas Pisa pada hari Minggu nanti.

Curhat Pilu Yann Bisseck Setelah Inter Milan Dikalahkan Ditekuk Atletico Madrid di Liga Champions Read More »

Jika Arsenal Bisa Menang di Kandang Chelsea, Persaingan Gelar Liga Inggris Bakal Selesai

Berita Bola – Derby London antara Chelsea dan Arsenal akhir pekan ini memicu perdebatan tentang posisi kedua tim dalam perebutan gelar Premier League. Arsenal yang sedang melaju mulus akan datang ke Stamford Bridge dengan keunggulan enam poin di puncak klasemen. Hasil di laga ini diyakini dapat mengubah dinamika kompetisi secara signifikan. Performa impresif Arsenal membuat banyak pengamat menempatkan mereka sebagai favorit kuat juara musim ini. Sementara itu, Chelsea mulai menemukan ritme setelah awal musim yang tidak stabil, termasuk kemenangan besar di Eropa. Laga ini pun digadang sebagai salah satu penentu arah musim bagi kedua klub. Paul Merson, mantan pemain Arsenal sekaligus pundit, memberikan pandangan tajam jelang pertemuan dua rival ini. Ia menilai hasil akhir di Stamford Bridge bisa berdampak besar terhadap sisa kompetisi. Arsenal sedang menjalani sembilan laga tak terkalahkan di Premier League dan hanya sekali kalah sepanjang musim. Rekor pertahanan terbaik di lima liga top Eropa menjadi fondasi konsistensi mereka sejauh ini. Dengan kondisi demikian, Merson menyebut kemenangan di Stamford Bridge akan menutup peluang tim lain mengejar. “Jika Arsenal menang, persaingan gelar selesai!” ujar Merson. Ia menilai kemenangan itu akan membuat The Gunners sulit disalip, bahkan jika Manchester City meraih kemenangan di pekan yang sama. Merson mengomentari performa Chelsea yang tampil dominan melawan Barcelona. Namun, ia juga menilai Arsenal menunjukkan kualitas serupa ketika mengalahkan Bayern Munchen dengan performa yang ia sebut “mengesankan”. Merson melihat perkembangan positif di bawah Enzo Maresca, terutama setelah kemenangan meyakinkan Chelsea atas Barcelona. Ia menilai hasil itu datang di waktu yang tepat setelah awal musim yang tidak konsisten. Meski begitu, ia menegaskan bahwa target utama Chelsea musim ini bukan gelar liga. “Saya kira Maresca tidak perlu ngotot menang di laga ini,” kata Merson. Ia menilai target realistis Chelsea adalah finis di empat besar dan membuat perjalanan jauh di kompetisi piala. Menurutnya, jika Chelsea menang, ekspektasi publik bisa berubah secara drastis. Situasi itu dinilai tidak ideal bagi tim muda yang masih berkembang dan kerap tampil naik turun. Meski mengakui potensi kejutan, Merson tidak menempatkan Chelsea sebagai favorit. Ia mengikuti performa tim secara rutin dan menilai pengalaman menjadi faktor utama yang membatasi peluang mereka. “Bisakah Chelsea mengalahkan Arsenal? Saya kira tidak,” tegasnya. “Chelsea punya tim yang sangat muda dan hasil mereka masih tidak stabil. Saya tidak yakin mereka punya pengalaman untuk juara liga.” Ia menilai Arsenal berada pada level permainan yang lebih matang dan sulit dijatuhkan dalam laga besar seperti ini. Dengan performa saat ini, Merson memperkirakan Arsenal setidaknya tidak akan kalah di Stamford Bridge.

Jika Arsenal Bisa Menang di Kandang Chelsea, Persaingan Gelar Liga Inggris Bakal Selesai Read More »

Krisis Yang Dialami Liverpool Semakin Parah: Statistik Mengungkap Laju Terburuk dalam 70 Tahun

Berita Bola – Liverpool memasuki fase kompetisi dengan tekanan berat setelah kekalahan 1-4 dari PSV Eindhoven. Kekalahan itu mengiringi turunnya performa tim ke tingkat yang belum pernah terlihat dalam beberapa dekade. Setelah memulai musim sebagai juara bertahan, perjalanan The Reds kini berada jauh dari ekspektasi. Posisi mereka di liga juga merosot drastis. Dengan hanya satu kemenangan dalam lima laga terakhir Premier League, jarak ke puncak klasemen semakin melebar. Kondisi ini membuat musim yang awalnya menjanjikan berubah menjadi rangkaian hasil yang mengecewakan. Catatan statistik memperkuat gambaran tersebut. Laju musim ini disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam 70 tahun terakhir, menimbulkan kekhawatiran serius di antara pendukung. Liverpool membuka musim dengan lima kemenangan beruntun di Premier League dan tujuh di semua kompetisi. Namun, momentum itu hilang ketika mereka kalah 2-1 dari Crystal Palace pada 27 September. Dari titik itu, penampilan tim menurun tajam dan belum kembali stabil. Setelah kekalahan tersebut, mereka kalah sembilan kali dan hanya menang tiga dari 12 pertandingan. Enam kekalahan dari tujuh laga liga membuat posisi mereka merosot dari pemuncak klasemen menjadi peringkat ke-12. Liverpool menjadi juara bertahan pertama sejak Leicester musim 2016-17 yang kalah enam dari 12 laga awal. Data itu menunjukkan betapa cepatnya performa klub terjun bebas dalam hitungan pekan. Kompetisi Eropa yang sempat menjadi tempat Liverpool mengumpulkan poin kini tidak mampu menahan lajunya penurunan. Kemenangan atas Eintracht Frankfurt dan Real Madrid memberi sedikit ruang bernapas, tetapi hasil terbaru melawan PSV memberi gambaran lebih gelap. Kekalahan 4-1 itu membuat mereka sudah dua kali kalah dalam lima laga Champions League musim ini. Lebih buruk lagi, kekalahan tersebut menjadi kekalahan ketiga berturut-turut dengan selisih tiga gol atau lebih, setelah sebelumnya kalah 3-0 dari Manchester City dan Nottingham Forest. Catatan sembilan kekalahan dalam 12 laga menyamai tren buruk yang terakhir kali terjadi pada musim 1953-54. Situasi itu memperlihatkan betapa seriusnya kemerosotan yang dialami tim. Performa Liverpool saat ini sering dibandingkan dengan musim 1953-54, ketika mereka mencatat rangkaian hasil yang sangat mengecewakan. Pada musim tersebut, mereka tumbang 5-1 dari Portsmouth dan Manchester United, lalu 5-2 dari West Brom pada hari Natal. Rangkaian tersebut merupakan bagian dari sembilan kekalahan dalam 11 pertandingan, hanya diselingi kemenangan atas Blackpool dan hasil imbang melawan West Brom. Semuanya terjadi di liga, kecuali tersingkirnya mereka di Piala FA oleh Bolton. Setelah kemenangan atas Blackpool, tim Don Welsh gagal menang dalam 15 laga beruntun hingga Maret sebelum akhirnya terdegradasi. Meskipun performa musim itu lebih buruk dari saat ini, penurunan tersebut tidak terlalu mengejutkan karena Liverpool hanya finis di posisi ke-17 pada musim sebelumnya.

Krisis Yang Dialami Liverpool Semakin Parah: Statistik Mengungkap Laju Terburuk dalam 70 Tahun Read More »

AC Milan Jadi Tim Yang Paling Minim Melakukan Pergantian Pemain di Serie A Musim Ini

Berita Bola – Data terbaru menunjukkan bahwa AC Milan menjadi tim dengan penggunaan pergantian pemain paling sedikit di Serie A musim 2025/2026 sejauh ini. Statistik itu langsung memunculkan perdebatan mengenai kedalaman skuad dan efektivitas rotasi yang diterapkan Massimiliano Allegri. Meski begitu, sang pelatih menegaskan tidak melihat hal tersebut sebagai masalah besar. Dalam 12 pertandingan pertama musim ini, Milan hanya melakukan 42 pergantian pemain dari total 60 kesempatan yang tersedia. Angka tersebut bukan hanya menjadi yang paling rendah di liga, tetapi juga semakin menebalkan kritik tentang terbatasnya jumlah pemain outfield yang hanya berjumlah 19 sejak awal musim. Kondisi itu semakin terasa ketika badai cedera menerjang usai jeda internasional Oktober. Walaupun demikian, Allegri memilih untuk tetap tenang. Menurutnya, skuad yang ada sudah mencukupi. Ia juga menegaskan bahwa pergantian pemain tidak selalu harus dilakukan. Situasi fisik pemain serta kebutuhan pertandingan jauh lebih penting dibanding sekadar memenuhi kuota lima pergantian. Data yang disajikan dalam laporan terbaru menunjukkan Milan berada di posisi terbawah Serie A dalam hal jumlah pergantian pemain. Dengan total 42 pergantian dari 12 laga—rata-rata 3,5 pergantian per pertandingan—Milan tertinggal 10 pergantian dari Parma yang berada satu tingkat di atas dengan 52 pergantian. Dibandingkan rival, jaraknya bahkan lebih mencolok: 16 pergantian di bawah Inter dan Napoli, serta 17 dari AS Roma. Menariknya, Allegri menjadi satu-satunya pelatih di liga yang pernah hanya menggunakan dua pergantian pemain dalam satu laga. Dalam tujuh pertandingan lainnya, ia hanya menggunakan tiga pemain cadangan. Lima tim lain pernah melakukannya, tetapi hanya sekali sepanjang musim. Allegri sendiri baru memanfaatkan seluruh lima jatah pergantian pada tiga pertandingan. Minimnya rotasi dinilai berkaitan erat dengan kedalaman skuad. Milan memilih merampingkan skuadnya pada musim panas lalu dan hanya mempertahankan 19 pemain outfield. Tanpa jadwal Eropa, keputusan itu dianggap cukup. Akan tetapi, badai cedera pada Oktober membuat skuad Milan berada dalam posisi lebih rentan. Ketika isu rotasi rendah dan kedalaman skuad kembali mencuat dalam konferensi pers jelang laga melawan Lazio, Allegri memberikan penjelasan terbuka. Ia menegaskan bahwa skuad Milan tidak sekecil yang dibicarakan banyak pihak. “Ini sama sekali bukan skuad kecil. Kami telah kehilangan Rabiot, Pulisic, dan Estupinan dalam sebulan terakhir,” ujarnya. Allegri juga menjelaskan bahwa pergantian pemain tidak harus dilakukan hanya untuk memenuhi formalisme. “Terkadang pergantian pemain dibutuhkan, tetapi terkadang tidak dibutuhkan, atau Anda melakukannya hanya sekadar melakukannya, dan itu tidak baik. Pergantian harus dilakukan saat dibutuhkan; terkadang tidak ada pertandingan yang membutuhkannya.” Ia melanjutkan bahwa beberapa pemain kembali dari tugas internasional dalam kondisi fisik melemah. “Dalam sebulan terakhir, lima pemain kembali dari timnas dalam keadaan praktis mati. Saya tidak bisa memainkan mereka. Ukuran skuad ini sudah tepat. Klub sedang bekerja merencanakan seperti Milan dalam beberapa tahun terakhir.” Menanggapi rencana bursa transfer, Allegri menegaskan pendekatan yang lebih selektif. “Januari adalah bursa yang aneh… Mendatangkan pemain yang tidak dibutuhkan… Kami memiliki pemain yang sedang berkembang dan mereka bisa memberikan lebih banyak pada paruh kedua musim.” Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa Allegri tetap percaya diri dengan komposisi skuad saat ini. Walaupun angka menunjukkan Milan sangat minim rotasi, sang pelatih menilai efisiensi tetap menjadi prioritas.

AC Milan Jadi Tim Yang Paling Minim Melakukan Pergantian Pemain di Serie A Musim Ini Read More »

Telan 9 Kekalahan Dari 12 Laga, Ada Apa Dengan Liverpool?

Berita Bola – Arne Slot benar-benar terlihat kebingungan. Liverpool baru saja dihajar PSV Eindhoven 1-4 di Anfield pada Kamis dini hari, dan rasanya seluruh stadion ikut menghela napas panjang. Kekalahan ini cuma menambah daftar luka, sembilan kalah dari 12 laga terakhir. Situasinya sudah sampai tahap “ketawa aja deh biar nggak stres.” Tim ini seperti kapal yang mulai miring, sementara Slot berdiri di dek sambil mengintip mesin yang sudah kepanasan. Virgil van Dijk sebelumnya bilang tim harus kembali ke permainan dasar. Ironisnya, justru dia sendiri yang tampil paling nggak mendasar. Handball konyol, protes berlebihan, dan gerakan seperti robot ngadat saat PSV bikin gol ketiga. Yang makin bikin janggal, iklan liburannya nongol pas jeda laga—momen yang benar-benar terasa nggak pada tempatnya. Liverpool sekarang mudah banget ditebak: kalah tenaga, kalah lari, dan sering banget kalah duel. Sisi kanan pertahanan seperti pintu tanpa kunci—PSV tinggal lewat saja. Salah jarang turun bantu bertahan, dan siapapun yang jadi bek kanan otomatis masuk mode “bertahan hidup.” Konate juga tampil jauh dari level terbaik, tapi mau gimana lagi, stok bek tengah sudah menipis. Liverpool pernah ditakuti karena intensitas ala Jurgen Klopp—ngegas, nge-press, nggak kasih napas. Sekarang? Energinya hilang. Banyak pemain baru datang, tapi bukannya bikin tim makin kompak, malah seperti campuran puzzle yang nggak nyambung. Isak datang dengan harga selangit, Wirtz juga begitu. Tapi sejauh ini keduanya belum memberikan perubahan berarti. Isak bahkan belum cetak gol di liga. Parahnya, dia datang tanpa pramusim, jadi kondisinya jelas belum siap tempur. Liverpool sekarang berada di titik kritis. Gagal ke Liga Champions bisa jadi mimpi buruk finansial. Penjualan pemain muda seperti Jarell Quansah juga terlihat semakin terasa sebagai keputusan yang gegabah. Slot seperti nakhoda yang kehabisan perbaikan darurat. Kalau nggak ada reset besar-besaran, era Slot bisa tamat sebelum sempat membangun apa-apa.

Telan 9 Kekalahan Dari 12 Laga, Ada Apa Dengan Liverpool? Read More »